Pw. St. Bonaventura, UskPujG (P)
Yes 1:11-17; Mzm 50:-9.16bc-17.21.23; Mat 10:34–11:1
Manusia pada umumnya mendambakan kehidupan yang bahagia, dengan kriteria umum seperti memiliki banyak harta. Tak jarang ada orang yang meletakkan kedudukan harta duniawi di atas segala hal yang lain. Ada orang yang hidup seolah-olah memiliki ketertarikan pada kedekatan dengan Tuhan seperti dalam peribadatan, namun tidak dilandasi dengan rasa cinta yang sesungguhnya. Mereka meletakkan sisi rohani mereka lebih di bawah dari pada keinginan akan harta duniawi, dan lebih jauh lagi, mereka memiliki rasa tidak siap untuk hidup dalam pengorbanan.
Dalam bacaan hari ini ditekankan bahwa pentinglah sikap ketulusan hati dan komitmen penuh dalam beribadah serta mengikuti Tuhan. Dalam Kitab Yesaya, Tuhan tidak berkenan akan ibadah yang hanya formalitas tanpa keadilan dan kasih, menuntut umat untuk berbuat baik dan adil. Dalam Injil Matius, Yesus mengajarkan bahwa mengikuti-Nya memerlukan komitmen total yang melebihi ketertarikan kita pada hal-hal lain yang kita temukan di dunia, dengan kesiapan menghadapi pertentangan dan pengorbanan. Yesus memberikan arahan kepada murid-murid-Nya di Galilea, mempersiapkan mereka untuk misi yang penuh tantangan. Kedua bacaan ini mengajarkan bahwa hubungan dengan Tuhan harus didasarkan pada ketulusan, keadilan, dan kesetiaan yang mendalam, melebihi sekadar ritual dan ikatan duniawi.
Santo Bonaventura, yang kita peringati hari ini, adalah teladan luar biasa bagi umat Katolik. Ia mengajarkan bahwa kehidupan rohani harus didasari oleh cinta dan komitmen total kepada Tuhan, bukan hanya formalitas. Bonaventura menekankan pentingnya menjalankan keadilan dan kasih dalam kehidupan sehari-hari, menempatkan Yesus di atas segalanya, dan siap berkorban demi iman. Ajarannya mencerminkan tuntutan Tuhan untuk ketulusan hati dan komitmen yang total.
Sebagai seorang Katolik, kita dituntut untuk mampu meletakkan iman kepada Tuhan, melebihi harta duniawi apapun yang kita miliki. Bahkan kita harus mampu menunjukkan pengorbanan, tidak takut untuk kehilangan apapun demi iman. Hal tersebut membuat kita mampu untuk menunjukkan sikap iman praktis yang benar, seperti aktif dalam kegiatan rohani dengan tulus dan bukan sekedar formalitas. Lebih dalam lagi, kita mampu untuk menjunjung tinggi sikap adil dan kasih seperti yang dikehendaki Tuhan, kendati kita harus mengorbankan apa saja yang kita miliki, agar kita menjadi orang yang layak bagiNya.
(Fr. Gerrardi V. F. Mandagie)
“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 10:39).
Marilah berdoa:
Tuhan, berilah kami hati yang tulus, komitmen yang penuh, dan keberanian untuk berkorban demi mengikuti-Mu dengan setia. Amin.











