Hari Biasa Pekan VII Paskah (P)
Kis. 28:16-20.30-31; Mzm. 11:4.5.7; Yoh. 21:20-25
Dalam perkembangan kehidupan ini, banyak sekali terjadi fenomena ikut-ikutan life-style. Mentalitas ini adalah pola pikir manusia yang dipengaruhi oleh orang lain untuk meniru perilaku, life-style, profesi, hobi, dan lain sebagainya. Mentalitas seperti ini membuat orang lupa bahwa kita adalah ciptaan yang unik, kita tidak mungkin sama dengan orang lain. Kita bisa saja mengikuti gaya hidup atau perbuatan-perbuatan orang lain yang kita banggakan, asalkan bermanfaat untuk kehidupan kita. Sebagai orang yang beriman, pribadi yang dapat kita ikuti ialah Kristus.
Bacaan dari Kisah Para Rasul mengisahkan tentang Paulus yang memberitakan Kerajaan Allah di Roma. Pada waktu itu Paulus menghadapi masalah besar di sana. Orang-orang Yahudi yang tidak percaya dengan pewartaan Paulus memilih untuk memberontak terhadapnya. Namun Paulus yang setia mengikuti Yesus berusaha untuk datang kepada mereka dan tetap mewartakan Kerajaan Allah. Walau terdapat penolakan tetapi banyak orang yang terus datang kepadanya dan mendengar pewartaannya tentang Yesus.
Bacaan Injil hari ini menunjukkan lebih tajam tentang suatu sukacita yang besar ketika kita menjadi murid Yesus dan mengikuti Dia. Yohanes menggambarkan bahwa ketika kita mengikuti Yesus, kita akan mendapatkan rahmat yang datang langsung daripadanya. Rahmat itu akan diberikan cuma-cuma untuk kita. Yohanes telah membuktikan kesetiaannya kepada Yesus yakni mewartakan kabar suka cita Injil bagi banyak orang. Injil yang selalu Hidup sampai saat ini di tengah-tengah kehidupan orang beriman.
Dua bacaan hari ini menghantar kita bahwa menjadi pengikut kristus, bukan soal memiliki mentalitas gerombolan. Namun, soal mengikuti Yesus adalah soal komitmen untuk tetap setia pada jalan yang baik dan benar itu. Seorang murid Yesus adalah seorang yang mampu bertanggung jawab atas semua tindakan dan perbuatannya. Kendala yang terbesar dalam kehidupan kita sebagai umat beriman adalah kecenderungan kita yang sering menyalahkan orang lain atas kehidupan yang tengah kita jalani. Bahkan sekalipun kita pernah dipersalahkan dan diperlakukan secara tidak layak oleh orang lain, itu bukanlah alasan untuk merasa tidak bahagia dan merasa gagal menjadi murid Yesus dan mengikutiNya. Kehidupan memang tidak adil. Kita semua mesti belajar soal ini dan kemudian mengatasinya. St. Paulus dan Yohanes telah mengajarkan kita bagaimana cara mengatasinya. Belajarlah dari mereka berdua ini, niscaya kita dapat menjadi pengikut Kristus yang setia!
(Fr. Kristovel Ivan Pepende)
“…Tetapi engkau: ikutlah Aku” (Yoh. 21:22).
Marilah berdoa:
Ya Bapa, mampukanlah kami untuk setia mengikutiMu dalam segala rintangan. Amin.











