“MENGASIHI TANPA BATAS”: Renungan, Jumat 12 Mei 2023

0
2172

Hari biasa Pekan V Paskah (P).

BcE Kis. 15:22-31; Maz. 57:8-9, 10-12; Yoh. 15:12-17

Peradaban umat manusia diperhadapkan dengan berbagai macam perbedaan. Perbedaan agama, ras, suku, budaya dan ada-istiadat setempat. Perbedaan sangat memiliki potensi bagi setiap orang untuk saling membenci. Walaupun demikian, bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk tidak boleh membenci orang lain, melainkan saling mengasihi antar setiap orang tanpa syarat.

Bacaan pertama menceritakan tentang jawaban para rasul terhadap jemaat di Antiokhia terkait masalah sunat menurut hukum Taurat. Jawaban para rasul mengajak umat untuk tidak berbuat dosa dan selalu berada dalam naungan kasih Allah. Kasih terhadap Allah berarti kita tidak jatuh dalam godaan, harus menjauhkan diri dari makanan persembahan berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik, dan dari percabulan. Jika kita melakukan semuanya itu, maka kita mampu mengasihi Allah. Lantas  apakah kita mengasihi Allah saja dan bukan sesama kita?

Dalam Injil Yohanes, Yesus memerintah kita untuk saling mengasihi. Itu berarti tidak boleh ada kebencian atau dendam antar seriap orang. Sebab sebelum Ia memerintah kita untuk saling mengasihi, Ia sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Yesus mengasihi kita melalui pemberian nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa manusia. Lantas apa yang kita terima dari-Nya, jika kita melakukan apa yang diperintahkan-Nya kepada kita? Yang kita terima dari-Nya adalah Ia menyebut kita sebagai sahabat-Nya. Selain itu, apa yang kita minta kepada Bapa melalui Yesus, maka akan diberikan kepada kita. Dengan demikian, kita tidak akan mengalami kekurangan satu pun.

Perintah untuk saling mengasihi, harus dilakukan dengan tulus atau tanpa syarat dan batas. Terkadang ada diantara kita yang mengasihi sesama dengan tulus dan ada yang mengasihi sesama dengan tidak tulus. Jika kita mengasihi sesama kita untuk mengharapkan sesuatu darinya, maka kasih itu tidak tulus. Atau kita hanya mengasihi sesama yang kita kenal, dan orang yang tidak kita kenal, maka kita tidak mengasihi dia. Itu berarti kasih itu tidak tulus. Secara konkter, Yesus telah menunjukkan kasih-Nya yang tulus kepada manusia. Dia mati demi manusia dan dosa manusia ditebus oleh-Nya tanpa meminta imbalan dari manusia. Oleh sebab itu, sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk saling mengasihi sesama tanpa syarat sama seperti yang telah ditunjukkan oleh Yesus kepada kita semua.

( Fr. Liberatus Lamere)

“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh. 15:12-17)

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, semoga kami semua saling mengasihi sebagaimana Engkau sendiri telah mengasihi kami. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini