“Kekayaan”: Renungan, Minggu 25 September 2022

0
1199

HM Biasa XXVI (H)

BcE Ams. 6:1a.4-7; Mzm. 146:7.8-9a.9bc-10; 1Tim. 6:11-16; Luk. 16:19-31)

Kekayaan dan kesejahteraan adalah anugerah Tuhan. Tuhan sendiri memberikan janji kepada Abraham berupa tanah, keturunan, dan berkat. Artinya, Tuhan sendiri menghendaki kekayaan dan kesejahteraan orang yang dipanggil-Nya. Malahan, Tuhan juga menuntun Israel keluar dari Mesir, dari tempat perbudakan, dari keadaan menderita, untuk pergi sebagai orang merdeka memasuki suatu negeri yang berlimpah susu dan madu.

Kekayaan dan kesejahteraan itu baik, baik sekali sifatnya. Berguna dan amat berguna sekali maksudnya. Orang yang kaya dan sejahtera dapat membantu sesama yang kekurangan. Dia dapat berbagi dan menjadi saluran kasih Allah kepada sesamanya.

Tapi persis di situlah juga persoalannya. Orang kaya yang kita dengarkan dalam bacaan-bacaan KS hari ini justeru tersandung dengan kekayaan dan kesejahteraan. Mereka merasa aman dan tentram sendiri. Mereka menikmati sendiri semuanya. Mereka berpesta pora tanpa peduli dengan sesama yang kekurangan dan keadaan yang perlu disikapi dan dibarui. Mereka kaya secara jasmani atau material, tapi miskin secara spiritual dan sosial. Kekayaan dan kesejahteraan tidak mengantar mereka untuk mencintai Tuhan dan sesama.

Sementara itu, Lazarus adalah seorang yang miskin secara material. Dia adalah seorang pengemis. Kata kaya amat jauh darinya dan sejahtera tak pernah dialaminya. Tetapi dia adalah seorang yang saleh. Dia tak mengumpat Tuhan. Dia tidak melakukan kejahatan kepada sesamanya. Dia kaya secara spiritual dan sosial. Inilah justeru orang kaya yang berkenan kepada Tuhan.

Kekayaan adalah baik. Menjadi orang kaya juga baik. Mengalami kesejahteraan adalah anugerah Tuhan untuk orang-orang pilihan-Nya. Tetapi memiliki kekayaan yang mengantar orang pada syukur kepada Tuhan dan bakti kepada sesama, itulah yang berkenan kepada Tuhan. Menjadi orang kaya yang peduli membantu orang berkekurangan, itulah yang orang kaya yang sejati. Menjadi kaya secara material, sosial, dan spiritual, itulah yang benar. Kalau begitu, jadilah kaya, berusahalah untuk sejahtera. Secara benar tentunya. Tapi jangan lupa bersyukur juga kepada Tuhan. Bantulah sesama yang membutuhkan pertolongan. Niscaya kita akan menjadi kaya dan sejahtera di dunia, kaya dan selamat juga di surga.

(Pst. Ventje F. Runtulalo, Pr)

“Yesus Kristus menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya oleh karena kemiskinan-Nya kamu menjadi kaya” (2Kor. 8:9).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berkatilah rencana dan pekerjaanku, serta anugerahkanlah kepadaku kesejahteraan dan kekayaan yang sejati. Berikanlah pula kepadaku kepedulian dan cinta untuk bersyukur kepada-Mu dan membantu sesamaku yang berkekurangan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini