“Didikan Tuhan”: Renungan Minggu 21 Agustus 2022

0
1743

Hari Minggu Biasa XXI (H).

Yes. 66: 18-21; Mzm. 117:1,2,, Ibr. 12:5-7,11-13; Luk. 13:22-30.

Bacaan pertama dari Kitab Nabi Yesaya memberikan gambaran tentang orang-orang percaya dari segala bangsa akan berkumpul untuk melihat kemuliaan Allah. Karena luput dari hukuman-Nya, mereka akan diutus untuk membawa kembali orang-orang Yahudi yang sisa kepada Tuhan, Allah Israel; pengumpulan ini akan terjadi pada akhir zaman.

Keputusan untuk percaya dan berpaling kepada Allah juga dibicarakan lebih lanjut dalam bacaan kedua. Orang yang percaya sungguh mendengarkan didikan Allah dan mereka akan luput dari hukuman-Nya. Allah mendidik dengan maksud agar orang menjadi sadar, mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, dan hidup sebagai anak-anak Allah yang selalu berpartisipasi di dalam kesucian dan kebenaran yang sejati. Karena hanya dengan mendengarkan didikan dan melaksanakan kehendak Allah maka keselamatan bukanlah sesuatu yang mustahil.

Dalam bacaan Injil hari ini ada  seorang yang bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Nampak bahwa pertanyaan tersebut menunjuk pada kuantitas orang masuk ke dalam kerajaan surga. Tetapi, Yesus tidak memberi jawaban mengenai sedikit atau banyaknya melainkan Yesus terlebih dahulu mendidik orang itu agar melihat kebenaran yang lebih dalam lagi arti dan makna keselamatan dan siapa yang diselamatkan. Yesus menjawab, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk tetapi tidak akan dapat.” Di sini Yesus hendak membangun kesadaran dari hati yang paling dalam orang yang bertanya kepada-Nya mengenai siapa yang diselamatkan.

Orang yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil hari ini sesungguhnya mewakili kita semua yang mengakui sebagai pengikut Kristus. Pertanyaan tersebut menjadi acuan bagi kita semua untuk melihat kembali perjalanan iman kita. Apakah aktifitas pelayanan, peribadatan, dan berbagai asesoris kehidupan beriman yang kita lakukan selama ini sudah menjadi jaminan keselamatan atau malah sebaliknya?

Bisa saja kita kelihatan beriman dan beribadah tetapi apakah kehidupan yang kita jalani setiap hari berjalan sesuai kehendak Allah? Karena itu mulai saat ini menjadi kesempatan bagi kita untuk mengintrospeksi dan membaharui diri sebelum terlambat atau sebelum pintu tertutup karena sempitlah jalan menuju surga namun luaslah jalan menuju kebinasaan atau neraka, di sana akan ada ratap dan kertak gigi.

(Fr. Loiz Wazi)

“Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyalah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang yang melakukan kejahatan!” (Luk. 13:27). 

Marilah berdoa:

Ya Allah, bukakanlah hati dan pikiran kami agar kami sanggup mendengarkan dan melaksanakan didikan-mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini