“Ikutlah Aku”: Renungan, Minggu 10 Oktober 2021

0
1671

Hari Minggu Biasa XXVIII (H)

Keb. 7:7-11; Mzm. 90:12-13,14-15,16-17; Ibr. 4:12-13; Mrk. 10:17-30

Bacaan pertama mengisahkan tentang Salomo yang berdoa memohon kepada Tuhan supaya diberi kebijaksanaan. Baginya kebijaksanaan lebih berharga daripada harta benda atau materi. Bagaimana memperoleh kebijaksanaan? Yakni dengan berdoa tanpa henti. Dalam doa orang memperoleh kebijaksanaan. Dibandingkan dengan roh kebijaksanaan, kekayaan tidak memiliki apa-apa karena akan hancur.

Dalam bacaan Injil, penginjil Markus bercerita tentang seorang yang datang dengan berlari-lari kepada Yesus. Sambil berlutut ia  bertanya tentang hidup kekal: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus tidak menjawab secara langsung syaratnya, tetapi Ia justru bertanya kepadanya tentang usahanya menghayati sepuluh perintah Allah. Ia dengan jujur mengatakan bahwa ia telah melakukan semua kebaikan kepada sesama. Setelah itu, Yesus memandang orang ini dengan penuh kasih dan berkata kepadanya, “Hanya ada satu yang kurang yaitu pergilah, juallah apa yang kaumiliki,  dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin maka engkau akan beroleh harta di Surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku”. Orang itu kemudian pergi dengan kecewa karena hartanya banyak.

Terkadang, sebagai pengikut Kristus, kita selalu mengejar hal-hal lahiriah. Meskipun kita rajin ke Gereja, melakukan praktik kesalehan, menaati sepuluh perintah Allah dan lima perintah Gereja, namun semua ini belum menjadi jaminan bahwa kita akan masuk Surga. Hal terpenting dalam mengikuti-Nya adalah usaha untuk menjadi serupa dengan Yesus. Serupa dalam hal keberanian untuk melepaskan diri dari segala sesuatu yang dapat menghalangi relasi kita dengan-Nya. Misalnya melepaskan diri dari harta yang kita miliki, orang-orang yang kita kasihi dan memiliki perhatian terhadap kaum papa dan miskin.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk memandang, mengagumi dan mengikuti Yesus. Dia adalah Putera Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Meskipun Ia adalah Allah, namun Ia rela melepaskan diri dari harta kekayaan. Kalau Allah saja memilih menjadi miskin dalam diri Yesus Kristus, mengapa manusia menjadi gila harta? Kita semua juga diajak untuk mencari kebijaksanaan yang tidak lain adalah Tuhan sendiri. Kebijaksanaan itu dapat diperoleh sebagai buah dari doa-doa pujian dan syukur tanpa henti kepada Tuhan. Apakah anda pernah bersyukur kepada Tuhan atas segala berkat dalam hidupmu?

(Fr. Dedianus pati)

“Pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mrk. 10:21).

Marilah berdoa:

Ya Allah, semoga kami hidup bijaksana dan saling membantu satu sama lain. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini