“Kemuliaan“: Renungan, Jumat 6 Agustus 2021

0
1905

Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya (P)

Dan. 7:9-10,13-14; Mzm. 97: 1-2,5-6,9; 2Ptr. 1:16-19; Mrk. 9:2-10

Hari ini lewat Pesta Yesus menampakkan kemuliaan-Nya, kita diajak untuk masuk dalam misteri kehadiran Yesus itu dalam dua aspek. Di satu pihak, sungguh telah ditegaskan kehadiran Dia yang istimewa, yang dari Allah sendiri. Dan di lain pihak, perutusan Yesus itu  menjadi tanda ketaatan kepada sang Bapa. Itulah yang menjadi sentral perayaan ini.

Pertama-tama, kita dapat melihat bahwa kemuliaan Yesus yang dihadirkan di gunung itu merupakan sebuah perjumpaan sejarah keselamatan itu sendiri. Itulah lewat kehadiran Musa, Elia dan Yesus sendiri. Melalui pengalaman hidup mereka, kita belajar untuk menghadapi aneka warna kehidupan. Di Mesir, Musa membela kebenaran. Dia tidak disenangi. Dia harus menderita dan dikejar-kejar. Tetapi, Allah mengutus dia kembali ke Mesir, untuk memimpin bangsa Israel keluar dari sana. Sebagai utusan Allah, ia setia dan mau menderita demi membawa kembali Israel ke tanah terjanji. Demikian pula Elia. Ia membela Tuhan dengan berperang melawan nabi-nabi Baal, agar Israel kembali mengabdi Yahwe.

Kedua, kita diajak masuk dalam kemuliaan Yesus yang paradoksal. Sebagaimana dalam nubuatan nabi Daniel, tampaklah bagaimana Putra Manusia yang hadir dalam kemuliaan dan kekuasaan laksana raja. Lewat diri sang Putra terdapat kekuasaan yang kekal dan kerajaan yang tak akan musnah. Lewat Daniel kita pun dapat merenungkan kemuliaan Tuhan yang tak berakhir.

Ketiga, Rasul Petrus pun menjelaskan kemuliaan Yesus yang datang sebagai raja lewat ketaatan pada kehendak Allah Bapa yang memberikan kemuliaan dan kehormatan kepada-Nya. Hal terpenting di sini adalah penegasan « Inilah Putra yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan ». Seperti Musa dan Elia, mereka taat dan setia pada Sabda Allah, kita pun diajak untuk mengungkapkan hal yang sama dalam perjalanan hidup setiap hari. Sebab meski harus menderita, mereka terus berjuang melakukannya.

Dengan demikian kepada kita sebagai pengikut Yesus, diserukan juga kalimat “Dengarkanlah Dia” yang menjadi jawaban rahasia menjalani kehidupan ini. Ini merupakan sebuah ajakan untuk menjadi taat. Semangat sedemikian ini merupakan tanda kebahagiaan dan ketabahan untuk menjalani hidup, bila kita mau mendengarkan Dia. Iman, harapan dan kasih akan Yesus Kristus menjadi pilar utama yang menyokong sikap setia kepada Allah. Dengan begitu, setiap pengorbanan yang dilakukan berdasarkan iman, akan mendapatkan arti dan nilai dalam kesatuan dengan penderitaan Yesus sendiri. Inilah yang mau ditunjukkan Yesus kepada kita bahwa kita diajak untuk menghayati kemuliaan-Nya justru dalam pengorbanan, penghampaan-Nya bagi kita semua.

(A. Bayu Nuyartanto, Pr)

“Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mrk. 9:7)

Marilah Berdoa:

Ya Bapa semoga kami senantiasa menghayati kemuliaan Yesus dalam segala sikap dan tindakan kami yang senantiasa memperhatikan mereka yang kecil dan lemah agar mereka pun dapat memperoleh penghiburan rohani dan jasmani.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini