“Hati seorang Penyelamat”: Renungan, Minggu 5 April 2020

0
3025

Pekan Suci – Hari Minggu Palma mengenangkan Sengsara Tuhan (M)

Perarakan: Mat. 21:1-11. E. Yes. 50:4-7; Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24; Flp. 2:6-11; Mat; 26:14-27:66 (Panjang) atau Mat. 27:11-54 (pendek).

Setiap hari Minggu Palma, kita selalu mengawalinya dengan perarakan daun-daun sebagai pengenangan akan Yesus yang memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai. Kedatangan ini disambut dengan sorak-sorai yang menggambarkan kegembiraan atas apa yang sedang berlangsung tersebut. Terlebih kita juga hendak memasuki pekan suci guna merenungkan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Bagaimanakah kita hendak merenungkan peristiwa minggu palma ini? 

Pertama-tama, bertolak dari apa yang ditunjukkan Yesus sendiri dengan menunggang seekor keledai. Lazimnya, seorang raja menunggang kuda bukan keledai. Kuda adalah simbol kekuatan dan keperkasaan sehingga merupakan kendaraan perang. Sementara itu, keledai adalah simbol kelemah-lembutan, bahkan sering dikatakan sebagai binatang yang bodoh. Namun, keledai selalu siap sedia melayani karena sadar akan dirinya sebagai binatang untuk mengangkut beban.

Yesus memasuki kota Yerusalem bukan untuk mengobarkan perang melawan orang Yahudi yang hendak membunuh-Nya, juga bukan untuk melawan penjajah Romawi seperti yang dilakukan orang-orang zelot. Ia datang ke Yerusalem untuk menderita guna menanggung beban dosa kita supaya kita dibebaskan dan diselamatkan. Maka, Ia menunggang keledai, binatang yang biasa menanggung dan mengangkut beban tuannya.

Beban dan hukuman itu, seharusnya kita yang menanggungnya karena kita yang melakukan dosa, tetapi semua itu ditanggung-Nya. Yesus telah mengorbankan diri-Nya untuk kita, maka kita pun diajak untuk berani berkorban bagi sesama. Kita pun harus saling tolong menolong dalam menanggung beban-beban kehidupan ini.

Pada hari ini kita diajak untuk banyak hening dan berdoa di depan Salib. Doa dan kontemplasi kepada Tuhan Yesus yang menderita sengsara dan wafat di salib adalah doa dan kontemplasi atas kasih Allah yang tiada tara, yang berkenan mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa-dosa kita.

Sekeras apa pun hati manusia seperti kepala pasukan dan para prajurit yang menjaga Yesus dapat terbuka hati mereka, ketika mereka berkata: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah.” Kematian seorang Raja yang lemah lembut dan rendah hati, seorang Raja yang tidak menghakimi namun justru mengampuni, seorang Raja yang tidak memiliki kebencian meski disiksa dan dianiaya namun justru menampakkan wajah belas kasih dan kerahiman serta mampu menggerakkan hati yang keras dan membuat pendosa seperti para prajurit mengucapkan pengakuan iman.

(P. A. Bayu Nuyartanto, Pr)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga kami dapat memasuki pekan suci ini dengan penuh keprihatinan akan kehidupan sekarang ini, sehingga kami mampu bangkit untuk hidup secara lebih berdaya guna bersama kebangkitan Kristus. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini