“Kehendak-Nya Penuh Daya”: Renungan, Senin 17 September 2018

0
2253

Hari Biasa (H).

1 Kor. 11:17-26; Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,17; Lukas 7:1-10.

Manusia adalah makhluk yang memiliki kehendak bebas. Ia memiliki kebebasan untuk menghendaki apa yang baik bagi dirinya dan juga bagi orang lain. Untuk mencapai kehendak itu ia harus berusaha agar apa yang ia kehendaki terpenuhi.

Tak jarang harta benda menjadi korban untuk mencapai atau memenuhi kehendaknya. Kendati telah mengorbankan harta benda, apa yang ia kehendaki tidak selalu dapat terpenuhi sesuai dengan harapan. Dengan demikian, putus asa dan kekecewaan sulit untuk dihindari.

Yesus adalah penjamin kehendak kita. Kehendak-Nya adalah kehendak yang menciptakan dan menghidupkan. Kenyataan itu nampak jelas dalam bacaan Injil hari ini. Seorang perwira menghendaki agar hambanya sembuh dari penyakitnya.

Akan tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa agar kehendaknya terjadi. Ia sadar bahwa ia sendiri tidak dapat menjadikan hambanya sembuh. Namun ia yakin bahwa Yesus dapat melakukannya.

Oleh karena itu, dengan penuh kerendahan hati, dengan perantaraan prajuritnya, ia datang kepada Yesus dan meminta-Nya agar menyembuhkan hambanya yang sedang sakit. Melihat betapa besarnya keyakinan atau iman perwira itu akan kuasa-Nya, maka Yesus menyembuhkan  hamba perwira itu. Dan terjadilah demikian! Hamba sang perwira sembuh seketika itu juga.

Kita tentu ingat akan kisa penciptaan alam semesta dalam kitab Kejadian. Di sana dikatakan bahwa pada mulanya hanya ada Roh Allah (Kej. 1:1). Dalam Injil dikatakan bahwa pada mulanya adalah Firman; Firman itu ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1).

Firman itu adalah Allah yang telah menjadi Manusia. Dialah Yesus Kristus. Dengan demikian, Yesus sudah ada sebelum adanya waktu. Dia adalah Allah, maka Dialah yang menciptakan alam semesta.

Kehendak Tuhan yang kita percaya penuh daya. Dayanya mampu mencipta, mengubah, menyembuhkan dan menghidupkan. Kita sadar bahwa kita layaknya seorang perwira dalam bacaan Injil hari ini. Terbatas dan tidak mampu mewujudkan kehendak  hanya dengan mengandalkan kemampuan kita sendiri.

Maka pantaslah kita menunjukkan sikap seperti sang perwira yang menaruh kepercayaan dan pengharapan kepada Dia yang penuh kuasa. Kehendak-Nya memiliki daya mengubah bahkan hal-hal yang tak mungkin bagi kita. Pantaslah bagi kita untuk menaruh iman dan pengharapan akan penyelenggaraan-Nya. Niscaya, kita akan jauh dari kekecewaan serta kehancuran.

 (Fr. Bala Sumarre)

“Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Luk. 7:7b).

 Marilah berdoa:

Tuhan Yesus Kristus, aku memiliki kehendak. Namun bukanlah kehendakku, kehendak-Mulah yang terjadi. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini