Refleksi: “Mencintai-Nya atau mencintainya”

0
2302

Hidup adalah sebuah pilihan. Oleh sebab itu, manusia dalam kehidupannya tidak lepas dari pelbagai pilihan. Ini adalah suatu realitas yang dialami oleh setiap manusia. Manusia harus menentukan pilihannya. Apakah dia memilih ini atau itu, ia atau tidak. Bahkan ketika ia tidak memilih, maka ia juga sudah menentukan pilihan untuk tidak memilih.

Tentunya setiap keputusan mengandung resiko. Setiap orang yang menjatuhkan pilihan harus bertanggung jawab dengan pilihannya itu. Oleh karena itu, jika salah untuk menentukan pilihan, maka akan berakibat buruk. Sebaliknya, jika kita dengan bijak menentukan pilihan dengan mempertimbangkan terlebih dahulu, maka kita akan memperoleh hasil yang baik.

Dalam kehidupan sebagai seorang frater di seminari, setiap harinya saya selalu diperhadapkan dengan pilihan; dimulai saat bangun pagi sampai istirahat malam. Di saat itu pula saya harus memilih untuk bangun atau melanjutkan tidur, hadir dalam ibadat ofisi atau tidak, mengikuti misa atau berdiam diri di kamar. Tentunya itu merupakan sebagian kecil dari pilihan-pilihan yang ada.

Ketika saya memutuskan untuk masuk di seminari juga, saya diperhadapkan dengan pelbagai pilihan, yakni tetap pada pekerjaan saya, melanjutkan karir saya atau masuk seminari? Saat itu saya dilema, namun saya memilih untuk menanggapi panggilan Tuhan.

Sebagai seorang frater, tentunya saya harus membangun relasi yang baik dengan umat. Hal ini telah saya lakukan. Oleh karena itu, saya banyak dikenal umat, baik tua, muda, maupun anak-anak. Akhirnya kedekatan ini mempertemukan saya dengan seorang wanita. Dia selalu memberi perhatian kepada saya. Kami biasa jalan-jalan bersama ketika ada waktu luang. Akibat kedekatan ini, saya pun jatuh cinta padanya. Akhirnya, kami mulai menjalani hubungan ini tanpa seorangpun yang tahu.

Menjalani hubungan ini, membuat saya menjadi tidak tenang. Hal ini membuat saya melupakan apa yang menjadi komitmen saya sejak dahulu. Saya mencintai dia, karena ia membuat saya mengerti apa itu cinta.

Namun ketika saya berefleksi tentang hal itu, barulah saya mengerti arti cinta yang sesungguhnya. Cinta yang sesungguhnya berasal dari Tuhan. Itulah cinta yang lebih mendalam. Sehingga Tuhan memilih saya untuk menjadi pembawa cinta dan damai bukan kepada satu orang pribadi, tetapi kepada banyak orang. Inilah pilihan: mencintai-Nya atau mencintainya.“Bukan kamu yang memilih aku, tetapi akulah yang memlih kamu” (Yoh. 15:16).

                                                                                                      (Fr. Reno Sondakh)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini