Hari Biasa
Pekan Adven III (U)
Bil. 24:2-7.15-17a; Mzm. 25:4bc-5ab.6-7bc.8-9; Mat. 21:23-27
Salah satu hal yang berperan penting dalam kehidupan adalah kekuasaan atau wewenang. Seseorang tidak dapat melakukan atau membicarakan sesuatu di luar kekuasaan dan kewenangannya. Sistem dalam dunia perusahaan, seorang karyawan tidak boleh bertindak di luar tugas dan kuasanya seorang direktur. Ketika hal itu terjadi, maka akan ada banyak masalah yang menimpa dirinya, seperti tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Dalam bacaan Injil hari ini ditampilkan bagaimana para imam dan tua-tua Israel mempertanyakan kuasa yang digunakan oleh Yesus untuk mengadakan berbagai mukjizat dan tanda-tanda.
Yesus tidak “menjawab” pertanyaan mereka, justru menjawab mereka dengan membuat pertanyaan lain tentang baptisan Yohanes. Jika mereka mengatakan baptisan Yohanes dari Allah, maka muncul pertanyaan sederhana, mengapa kamu tidak percaya? Namun, jika mereka mengatakan baptisan Yohanes dari manusia, maka mereka harus melihat perbedaan mendasar dari kedua pribadi antara Yesus dan Yohanes, dan salah satu perbedaan mendasar yaitu mukjizat. Yesus membuat banyak mukjizat dan tanda, seperti menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dll, sedangkan Yohanes tidak. Dengan demikian, di sini dapat dilihat bahwa Yesus adalah Tuhan yang memiliki kuasa dan wewenang melebihi apapun dan siapapun. Kekuasaan itu datang dari dalam diri-Nya sendiri, sehingga apa yang ia perbuat sesuai dengan kuasa dalam diri-Nya.
Dalam kehidupan setiap hari, terkadang kita tidak percaya dan bahkan meragukan kuasa yang dimiliki oleh Yesus. Apalagi ketika kita tertimpa masalah yang tidak dapat diselesaikan. Bahkan, kita telah meminta kepada Yesus, tetapi tidak mendapat jawaban apa-apa sehingga keraguan dan kekecewaanpun muncul. Akibatnya, berpaling dari kehendak Tuhan dan mencari kuasa-kuasa lain dan bahkan mencari “allah yang lain” yang berasal dari dunia, serta melupakan Tuhan. Pada hari ini, Tuhan mengajak kita untuk menyadari setiap kehidupan keberimanan kita dan menyandarkan diri pada kehendak-Nya. Apakah kita sudah sungguh-sungguh mempercayakan diri kita 100% kepada Tuhan? Hidup kita sudah berada dalam rencana Tuhan. Mungkin kita belum merasakan jawaban atas pertanyaan hidup kita kepada Tuhan, tetapi Tuhan telah menyediakan jawaban yang lain karena “rencana Tuhan adalah rencana-Nya, bukan seperti rencana manusia.”
(Fr. Tinus Nifanngelyau)
“Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?” (Mat. 21:25)
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, ajarlah aku agar tetap percaya kepada-Mu, satu-satunya Allah yang adil dan benar. Amin











