Refleksi: “Dia”

0
2077

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Perkara memang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Sebagai seorang calon imam menghadapi setiap perkara bukanlah hal yang mudah. Perkara hari ini dapat lebih besar dari yang terjadi sebelumnya. Seringkali aku berpikir untuk mengakhiri saja jalan panggilan ini. Tetapi aku teringat dengan kata-kata dari orang bijak yang berbunyi demikian: “Badai kemarin memang besar dan hari ini akan lebih besar. Tetapi jangan menyerah hari ini karena besok badai akan redah.”

Nasihat dari orang bijak ini membuatku semakin bersemangat. Mengahadapi setiap perkara yang datang dalam perjalanan panggilan suci ini. Aku selalu yakin bahwa setiap perkara yang datang menghampiriku adalah sebuah ujian. Membuatku lebih tegar dan bersemangat dalam menjalani panggilan suci ini. Jalan ini memang berat bila dijalani dengan hati yang tertutup. Mengapa demikian?

Bagiku setiap perjalanan yang dijalani dengan hati yang tertutup membuat hidup terasa hampa dan tak bermakna. Karena hati tidak pernah menerima setiap persoalan yang terjadi dalam hidup. Jika hati terbuka untuk menerima setiap persoalan yang dihadapi, setiap perkara apapun yang selalu datang entah perkara itu besar atau kecil tetap dapat dihadapi dengan mudah. Karena hati terbuka untuk menerima. Hati yang terbuka membuatku dapat merasakan bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap perkara yang aku hadapi.

Dalam perjalanan panggilanku, begitu banyak perkara yang seringkali kuhadapi. Setiap perkara itu selalu kujadikan sebagai sebuah moment yang selalu dikenang. Karena disitu Tuhan hadir untuk menunjukan cinta_Nya kepadaku. Dari dalam lubuk hati yang paling dalam, aku selalu merasa bersalah atas setiap dosa yang seringkali kulakukan dihadapan Tuhan.

Setiap dosa yang terjadi dalam hidupku mengajarkanku bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan aku berjalan sendirian. Ia tidak pernah melihat aku sebagai seorang yang berdosa. Namun Ia selalu melihatku sebagai seorang yang berharga yang perlu untuk diselamatkan. Bahkan setiap dosa-dosaku selalu Ia balut dengan balutan kasihNya. Kasih yang sempurna.

KasihNya yang sempurna itu telah menjadikanku sadar. Bahwa aku ini berharga dihadapan_Nya. Dalam balutan kasih_Nya yang sempurna itu aku juga belajar. Bahwa Tuhan selalu membantuku dalam setiap perkara yang aku hadapi. Mengapa aku harus takut dan menyerah terhadap setiap perkara yang kuhadapi? Bukankah aku harus selalu bersyukur dan bersemangat dalam menjalani hidup?

(Fr. Putro Koraag)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini