“Perjumpaan yang Mengubah Hidup”: Renungan, Selasa 19 November 2019

0
4561

Hari Biasa (H)

2 Mak. 6: 18-31; Mzm. 3:2-3,4-5,6-7; Luk. 19:1-10

Menjadi orang Kristen berarti hidup mengikuti teladan Kristus sendiri. Itu berarti bahwa seluruh aspek kehidupan kita senantiasa diarahkan kepada Kristus. Namun seringkali entah disadari atau tanpa disadari, meski mengaku diri Kristen namun cara hidup kita belum menunjukkan adanya sebuah perubahan yang searah dengan teladan Kristus itu. Baik hidup pribadi kita, hidup keluarga kita, maupun hidup bermasyarakat kita.

Mungkin dalam pekerjaan harian kita masih menunjukkan kecurangan, kecurigaan, penindasan dan penghancuran sehingga apa yang diimani tidak nampak dalam perbuatan. Hal ini mungkin terjadi karena kita belum mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Kita mengikuti perayaan ekaristi, mendengar dan membaca sabda Allah serta berdoa namun kita merasa kosong karena relasi pribadi kita dengan Tuhan belum terbangun.

Penginjil Lukas menceritakan bagaimana perjumpaan dengan Tuhan itu membawa kita pada perubahan seluruh hidup. Itulah yang dialami oleh Zakheus ketika berjumpa dengan Yesus. Zakheus adalah orang kaya namun dibenci oleh orang-orang karena pekerjaannya yakni pemungut cukai, pekerjaan yang dianggap dosa. Walaupun memiliki keterbatasan secara fisik namun ada kerinduan dalam diri Zakheus utuk mencari Tuhan.

Zakheus tidak menjadikan keterbatasan fisiknya sebagai penghalang untuk berjumpa dengan Yesus. Ia berlari mendahului orang banyak lalu memanjat pohon ara untuk melihat siapakah Yesus itu. Hal ini menunjukkan sebuah usaha yang sungguh-sungguh untuk berjumpa dengan Tuhan. Ketika Yesus memanggilnya ia pun langsung meresponnya.

 Setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus hal ini membawanya pada suatu pengakuan akan dosa dan perubahan hidup. Sebelumnya Zakheus hanya tahu menagih pajak atau memperkaya diri sendiri tanpa mempedulikan kesusahan orang lain. Kini ia menjadi orang dermawan dan peduli terhadap sesamanya.

Pengalaman iman yang dialami oleh Zakheus yakni perjumpaan yang merubah hidup ini, hendaknya menjadi pengalaman kita juga. Bahwa kita semua dipanggil menuju pada kekudusan. Dalam segala keterbatasan kita, kita diajak untuk membuka diri untuk Tuhan. Dengan membuka diri untuk Tuhan maka kita dapat berjumpa dengan-Nya.

Dengan memiliki pengalaman perjumpaan bersama Tuhan, maka kitapun dimampukan untuk mengubah hidup kita dengan menyadari dosa kita, mengakui dosa kita dan berani meninggalkan dosa kita.

(Fr. Agustinus Udenge)

“Dengan nyaring aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus” (Mzm. 3:5).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah aku orang yang lemah ini, untuk bangkit dari kelemahan-kelemahanku. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini