Refleksi: “Cara-Nya Memanggil”

0
1505

Ada pelbagai motivasi yang berbeda-beda dalam menanggapi panggilan Tuhan menjadi imam. Ada yang memang tertarik menjadi seorang imam, ada yang ingin makan-makanan enak saja, dilayani dan diperhatikan oleh umat atau ada yang karena  mendengar bahwa di seminari banyak permainan olahraga. Dan berbagai bentuk motivasi lainnya.

Belum diketahui lebih jelas dalam benak saya akan sistem dan tujuan pembinaan di seminari seperti apa. Bahkan pengenalan akan seminari itu saja belum ada dalam pikiran saya. Bermula dari acara pentahbisan salah satu imam di kampung halaman saya. Acara tersebut turut dimeriahkan oleh pihak seminari dengan iringan drumband mereka.Seketika itu juga timbul rasa suka untuk masuk seminari dalam diri saya yang hanya semata-mata ingin bermain drumband. Bermain drumband dalam benak saya mampu memikat hati setiap orang yang melihatnya. Layaknya seorang artis yang seringkali dikerumuni banyak orang.

Seiring dengan berjalannya waktu. Setelah lulus dari Sekolah Dasar, saya bertekad masuk seminari. Saya pun mendaftarkan diri untuk mengikuti tes. Tibalah saatnya yang dinati-nantikan. Pengumuman hasil tes dikirim lewat surat ke setiap sekolah yang mana siswanya berasal. Dan akhirnya nama saya tertera dalam surat tersebut. Dalam surat itu saya dinyatakan telah lulus. Betapa senang dan gembiranya hati saya. Dalam hati kecil saya beranggapan bahwa dengan ini saya tidak hanya mampu melihat namun turut merasakan nikmatnya memainkan drumband.

Berproses dalam pembinaan dan pendidikan di seminari turut membenahi sikap, perilaku serta cara berpikir saya. Perlahan motivasi awal saya yang ingin bermain drumband mulai mendapat titik cerahnya melalui sistem pembinaan di seminari. Pola pikir saya akan drumband mulai dipoles dan terarah lewat kegiatan-kegiatan yang diikuti dalam seminari. Seperti; Triduum, Rekoleksi dan bimbingan pribadi. Saya pun merasa bahwa inilah bentuk panggilan Tuhan bagi saya yang pada awalnya terlihat dari keinginan semata saya untuk bermain drumband. Dalam pendalaman refleksi, saya menemukan bahwa pribadi seseorang mendapat panggilan dari Tuhan itu dengan cara yang berbeda-beda. Saya pun menyadari seketika akan panggilan Tuhan itu bahwa Tuhan ingin memperalat saya dalam menanggapi misi sucinya untuk memberitakan kabar sukacita Injil bagi umat yang dikasihiNya.

(Fr. Jan Heatubun)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini