Ketika saya duduk dan berpikir sejanak tentang realitas kehidupan ini, muncul suatu pertanyaan bahwa mengapa kita manusia ingin menjadi pelayan Tuhan. Tentunya ada berbagai alasan sehingga kita memilih dan memutuskan untuk menjadi seorang pelayan Tuhan.
Ada yang karena merasa bahwa dari pada waktu kosong saya pergi ke Gereja untuk melayani seperti mengikuti latihan koor, membersihkan Gereja dan lain-lain. Ada juga orang yang merasa itu sebuah kewajiban, ia berpikir jika bukan saya siapa lagi yang akan melayani.
Nah, pelayanan yang berasal dari motivasi yang sedemikian tidak menyentuh arti pelayanan Kristiani yang sesungguhnya. Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus 13:13 berbunyi “Demikianlah tinggal ketiga hal ini yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar ialah kasih”.
Dikatakan bahwa kasih yang paling besar, oleh karena itu dalam pelayanan kasih harus menjadi yang utama. Jadi, adalah mulia melayani bukan karena mengisi waktu kosong atau kewajiban, melainkan karena terdorong oleh kasih kepada Allah dan sesama. Bahwa hendaknya pada saat seseorang malayani ia harus tahu dan sadar bahwa ia sedang melayani Tuhan dan sesama.
Pelayanan yang dilakukan dengan kasih selalu akan mendatangkan berkat yang melimpah bagi yang dilayani ataupun yang melayani. Melayani dengan kasih adalah wujud nyata dari amanat Yesus kepada kita semua murid-muridnya. Mereka yang merasakan pelayanan kasih kita ikut melihat kehadiran Allah yang menyelamatkan karena Allah adalah kasih, “Deus Caritas Est”. Demikianlah kasih menjadi cahaya yang membawa orang kepada keselamatan.
(Fr. Yakobus Balia)











