“Bukan Waktu”: Renungan, Senin 31 Desember 2018

0
2579

Hari Ketujuh dalam Oktaf Natal (P)

1 Yoh. 2:18-21; Mzm. 96: 1-2, 11-12, 13; Yoh. 1:1-18

 Tempora mutantur et nos mutamur in illis”, artinya waktu berubah dan kitapun berubah di dalamnya. Ungkapan ini mau menunjukkan hubungan manusia dengan waktunya di dunia ini. Waktu tak pernah lepas dari kehidupan. Waktu dapat membawa perubahan entah itu kemajuan atau kemunduran bergantung dari setiap tindakan dan usaha manusia. Berhubungan hari ini merupakan hari terakhir dalam tahun 2018 maka sebenarnya adalah tepat bagi kita untuk menyadari segala peristiwa selama setahun yang berlalu bahkan selama hidup kita.

Bacaan kitab suci hari ini membantu kita untuk mencari makna di momen-momen terakhir ini. Dalam suratnya yang pertama Rasul Yohanes secara jelas menegaskan bahwa memang waktu ini adalah yang terakhir, namun kata terakhir bukan berarti berakhirlah sudah perjalanan dan perjuangan kita. Sama sekali tidak! Justru dalam waktu-waktu ini akan muncul banyak tantangan dan godaan yang akan membuat kita tidak lagi mampu melihat segala pertolongan dan rahmat Tuhan dalam kehidupan kita. Hal inilah yang akan menyebabkan kita terkurung dalam rasa tidak tahu bersyukur dan melihat masa depan sebagai beban.

Kelemahan manusiawi kita memang sering menjadi alasan ketika menyerah kala ditempa badai cobaan namun tak seharusnya itu dibenarkan. Sebaliknya Allah memakai kelemahan itu untuk menunjukkan kasih-Nya kepada manusia yang fana. Ini menjadi nyata dalam pesta Natal yang telah kita rayakan.

Pada masa Natal ini pula hendaknya kita menyadari bahwa martabat kita sebagai manusia diangkat oleh Allah untuk menunjukkan kerahiman-Nya dengan menyelamatkan manusia melalui Kristus, Putra Tunggal-Nya yaitu firman yang telah menjadi manusia. Dan jika kita menerima Dia sebagai firman yang memberikan terang untuk kehidupan sekarang dan nanti berarti kita memperoleh pengurapan sebagai anak-anak Allah. Maka sungguh benar apa yang dikatakan Rasul Yohanes bahwa kita sebagai anak-anak Allah diberikan pengetahuan akan kebenaran yaitu bahwa Yesus adalah Allah karena pada mulanya adalah firman dan firman itu bersama-sama dengan Allah dan firman itu adalah Allah.

Tindakan dan usaha sebagai anak-anak Allah adalah mewartakan Kristus yang sungguh hadir dalam kehidupan dengan tingkah laku dan sikap kita pantang menyerah dan memandang masa depan sebagai rencana-Nya. Ingatlah dengan begini bukan waktu yang akan mengubah kita tetapi kitalah yang akan mengubah waktu hidup ini menjadi berkat bagi orang lain. Jangan sampai kita yang adalah milik-Nya tidak mengenal-Nya apalagi tidak menerima-Nya yaitu Kristus Tuhan kita.

(Fr. Joctaf Geres)

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh. 1:14).

 

Marilah berdoa:

Bapa, ajarilah kami menghargai setiap waktu. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini