Refleksi: “Rumah”

0
4407

Berbicara tentang sebuah “rumah”, pemahaman kita dapat terarah pada pemikiran tentang rumah sebagai suatu bangunan fisik, di mana kita tinggal (house), dan rumah sebagai suatu keadaan di mana kita hidup (home). Ketika seseorang berkata “aku rindu rumah”, tentu saja bukan rumah yang dalam arti bangunan fisik yang dirindukan seseorang itu, melainkan suatu suasana yang ada di dalam rumah tersebut tentunya.

Suasana di mana seseorang merasa nyaman dan tenang, ketika berada di rumahnya; suatu suasana di mana seseorang mendapat perhatian dari orang-orang yang ada di dalamnya; suatu suasana di mana ada sukacita, canda-tawa, kebahagiaan, yang kadangkala sulit di dapatkan di tempat lain. Sehingga apabila seseorang menemukan hal demikian di tempat lain, ia akan berkata “ini seperti rumahku sendiri!” Atau “ini seperti keluargaku sendiri!”

Kata “rumah” yang menunjuk pada suatu keadaan seperti di atas, digambarkan sebagai suatu suasana yang positif atau yang baik. Setiap orang menginginkan hal itu terjadi di rumah mereka. Tentu saja semua orang menginginkan agar ada kenyamanan, sukacita, ketenangan, kebahagiaan, kebersamaan, canda-tawa di dalam rumah mereka.

Ketika mulai terdapat perbedaan pendapat antara orang-orang yang hidup dalam suatu rumah dan perselisihan mulai terjadi, rumah tentunya tidak menjadi suatu tempat tinggal yang nyaman dan tenang bagi orang-orang yang hidup di dalamnya. Begitupun ketika rumah menjadi suatu tempat yang menyediakan begitu banyak aturan dan hukuman jika terjadi pelanggaran, seperti penjara, itu membuat rumah bukan menjadi suatu tempat yang dirindukan nantinya.

Yesus Kristus lahir dan hidup dalam suatu rumah, meskipun rumah dalam arti bangunan fisik tidak ditonjolkan dalam Injil, namun rumah dalam arti suasana keluarga. Maria, ibu-Nya, dikenal sebagai sosok yang begitu rendah hati dan menunjukkan kepasrahan seutuhnya pada kehendak Allah; Yusuf, ayah-Nya, dikenal sebagai sosok yang tulus hati karena mau menerima Maria sebagai isterinya yang mengikuti rencana Allah terjadi pada dirinya. Keduanya adalah tokoh yang menunjukkan kepercayaan mereka kepada kehendak Allah, seraya menjalankan ajaran-ajaran iman yang dianutnya, seperti halnya ketika mengajak Yesus untuk berziarah ke Yerusalem pada hara raya paskah.

Hal demikian tentu saja dapat menggambarkan suatu suasana di mana Yesus kecil lahir dan bertumbuh dalam asuhan Yusuf dan Maria. Keluarga ini dikenal oleh umat beriman Kristiani sebagai Keluarga Kudus dari Nazaret. Suatu keluarga yang begitu menghidupi iman dan kepercayaan mereka kepada Allah. Suatu keluarga di mana Allah sendiri mau hadir dan berkarya di dalamnya.

(Fr. Ryan Koresh)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini