Ketika saya merenungkan apa artinya hidup secara penuh, maka muncul pertanyaan dalam benak saya: “Bagaimana saya bisa menghadapi berbagai tantangan, tempat dan situasi di mana saya berpijak?”
Jawabannya yaitu saya atau kita mesti menyetarakan pelbagai ruang dalam diri kita seperti emosi, pikiran, kemauan dan hati. Ketika kita mampu mengolah emosi dan selalu berpikir positif maka hidup kita akan terasa penuh dengan kedamaian.
Orang yang hidup secara penuh akan menemukan kebahagiaan sejati, yang mungkin bagi orang lain adalah sebuah beban atau tugas. Namun hal ini justru menjadi tantangan bagaimana seseorang dapat hidup secarah penuh.
Saya mengibaratkan hidup secara penuh itu bagaikan duri-duri pada setangkai bunga mawar. Kenapa? Karena yang menjadi pusat perhatian orang bukan pada tangkainya melainkan pada bunga mawar itu sendiri. Aroma bunga mawar yang harum mengundang banyak kumbang dan kupu-kupu datang mengisap madunya.
Begitupun hidup kita, ketika kita mampu melewati duri-duri hidup ini, maka kita akan menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan yang kita alami akan mengundang banyak orang untuk merasakan apa artinya hidup secara penuh.
Hal lain yang harus kita sadari dalam diri kita untuk hidup secara penuh adalah “hidup yang kita jalani setiap hari memberikan sesuatu yang baru”. Hari ini bukan menjadi tiruan dari hari kemarin. Apa yang kita alami pada hari kemarin tidak sama dengan hari ini. Hidup secara penuh membutuhkan sebuah perubahan.
Apa yang harus diubah? Cara pandang kita agar selalu berpikir positif. Pikiran positif akan melahirkan pengertian-pengertian baru. Pengertian baru inilah yang membawa kita pada sebuah kenyataan hidup. Ketika kita mampu hidup secara penuh, kita akan merasakan betapa pedihnya hidup ini karena penuh dengan penderitaan yang menyakitkan.
Namun ketika kita mampu melewati semua penderitaan ini, maka kita akan tumbuh menjadi pribadi yang berpengalaman, lebih peka, lebih mudah berempati dan penuh kasih sayang, karena kita telah mau mengambil bagian dalam penderitaan itu. Penderitaan yang kita alami hendaklah disatukan dengan penderitaan Kristus yang di salib. Di situlah kita akan menemukan kebahagian sejati.
(Fr. Hans Hubertus Werit)











