Refleksi: “Mengenal Tuhan butuh Proses”

0
9758

Tiada hasil tanpa kerja keras, tiada hasil yang baik tanpa proses yang baik pula. Seperti itulah yang sering kita alami dalam kehidupan kita. Orang bekerja keras agar dapat menikmati hidup yang baik. Dalam proses belajar dan mencari tahu, tentu tidak mungkin dengan cara yang instan. Perlulah suatu proses agar segala hal yang ingin kita usahakan dapat tercapai dengan baik. Demikian pula dalam hal pengenalan akan Allah, tentu di dalamnya memerlukan suatu proses iman.

Merefleksikan hal itu, saya teringat akan kisah Yesus yang menyembuhkan orang Buta di Betsaida (Mrk 8:22-26). Yesus dan para murid yang baru tiba di Betsaida dimintai tolong untuk menyembuhkan orang buta. Tidak seperti kisah mukjizat penyembuhan yang biasanya, Yesus membawa orang buta itu keluar kampung. Proses penyembuhannya pun unik: Yesus meludahi mata orang buta itu namun belum sepenuhnya sembuh, kemudian Yesus meletakkan kembali tangannya dan sembuhlah orang buta itu. Kisah ini tidak semata-mata menunjukkan gaya lain dari mukjizat Yesus atau kuasa Yesus pun terkadang kurang manjur, jelas tidaklah demikian!

Melalui Tindakan Yesus ini saya berefleksi bahwa melalui sentuhan dan sapaan kepada orang buta, Yesus menunjukkan tindakan sebagai seorang Bapa yang mau menolong mengurangi penderitaan orang lain. Sebagai orang yang disentuh dan disapa oleh Bapa, kita diajak untuk memahami bahwa sesungguhnya, untuk dapat mengenal Yesus dengan baik dan jelas kita butuh suatu pengenalan yang baik dan jelas pula. Upaya tersebut diperoleh melalui proses, yakni proses belajar dan membuka diri terhadap Allah. Setelah kita belajar mengenal dan memahami Allah di situlah kemudian kita dipanggil untuk “pulang ke rumah”, artinya melaksanakan tugas pengutusan dari Bapa.

Bagi saya, iman adalah sebuah proses yang memerlukan perjuangan. Terkadang kita menghadapi banyak sekali tantangan yang mudah mengganggu kesetiaan kita sebagai umat Allah. Tetapi, untuk tetap setia kepada Allah maka perlulah kita selalu disentuh oleh Allah, kita harus tahu kepada siapa kita akan mempersembahkan diri kita. Proses memperjuangkan iman secara konkret dan usaha untuk mengalami sentuhan dan sapaan Allah, bisa diperoleh melalui kegiatan-kegiatan rohani seperti Ekaristi, Ibadah kelompok, doa-doa, dan yang lebih penting menjadikan Kristus sebagai andalan dalam setiap aktivitas kita.

(Fr. Angelo Ch. Tanod)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini