“Akulah Penyelamat”: Renungan, Senin, 15 Oktober 2018.

0
2451

Pw S. Teresia dr Yesus, PrwPujG (P)

BcE Gal. 4:22-24,26-27,31 – 5:1; Mzm.113:1-2,3-4,5a,6-7; Luk. 11:29-32; atau dr RUybs.

Saudara terkasih, dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegur orang banyak. Mereka meminta tanda yang lebih lanjut dari otoritas spiritual-Nya, padahal Yesus sendiri adalah tanda yang cukup untuk generasi tersebut. Teguran Yesus tersebut mau menunjukkan bahwa kedatangan-Nya itu memiliki poin lebih, ketimbang kedatangan Yunus.

Kedatangan Yunus membuahkan pertobatan, sedangkan kehadiran Yesus membawa keselamatan. Inilah letak perbedaan antara kedatangan Yunus dan kedatangan Yesus. Namun, orang-orang tidak mau menerima kedatangan Yesus tersebut.

Teguran tersebut juga sekaligus menjadi ajakan untuk orang banyak yang pada saat itu datang kepada Yesus, agar bisa memperoleh keselamatan. Ia telah ada sebelum dunia dijadikan dan kini menjadi manusia sebagai tanda, bahwa Allah tidak mengingkari janji-Nya kepada Daud dan anak cucunya. Allah telah berjanji bahwa Ia akan selalu menyelamatkan manusia dan kini janji-Nya telah ditepati melalui kehadiran Yesus tersebut.

Meskipun Yesus secara langsung tidak diterima, namun Ia tidak putus asa dan pergi. Ia melakukan yang sebaliknya yakni, tetap memberi pemahaman yang benar akan kedatangan-Nya kepada orang banyak. Yesus tetap menunjukkan kehadiran-Nya dan alasan Ia datang ke dunia ini. Ia tidak hanya datang begitu saja, namun Ia juga berusaha untuk meyakinkan orang banyak akan kebenaran yang terkandung dalam teguran tersebut.

Yesus sedang membandingkan diri-Nya yang akan turun ke alam maut dengan Yunus yang tinggal di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam itu. Yesus hendak menunjukkan kepada orang banyak bahwa Ia lebih besar daripada Salomo maupun nabi Yunus. Inilah kebenaran yang terkandung dalam teguran Yesus kepada orang banyak.  Sebab, Ia sendiri berasal dari Bapa dan Ia datang dengan membawa serta keselamatan kepada banyak orang. Untuk itulah Ia diutus.

Kita juga kadang tidak menerima apa telah terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan selalu meminta yang lebih. Sering kita tidak bersyukur atas rejeki yang kita punya dan tetap merasa tidak puas. Padahal itulah tanda kasih Allah kepada kita. Maka itu, jika ingin selamat, kita harus dekatkan diri dengan Dia yang datang untuk menyelamatkan kita.

(Fr. Petrus M. Sakbal).

“Seperti Yunus menjadi tanda untuk orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini” (Luk. 11:30).

Marilah berdoa:

Aku bersyukur kepadaMu ya Allah, sebab Engkau telah mengutus Putera-Mu untuk menjadi jalan keselamatan bagi kami umat-Mu.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini