“Menemukan Tuhan di Dalam Sesama”

0
1787

Di dalam menjalani kehidupan di dunia ini, setiap orang pasti memiliki panggilan dari Tuhan yang berbeda-beda entah itu panggilan untuk menjadi seorang gembala (Imam, biarawan/biarawati) yang merupakan pelayan dan pewarta kerajaan Allah bagi semua orang. Ada juga panggilan untuk berkeluarga agar bisa menanggapi firman yang dikatakan oleh Allah dalam Kitab Suci Perjanjian Lama.

Panggilan itu sendiri datang dengan berbagai macam cara dan kesempatan sehingga semua itu berpulang pada diri kita masing-masing. Apakah kita mau menanggapi panggilan itu atau tidak. Ada orang yang memilih tidak menikah demi Kerajaan Allah, ada yang tidak menikah karena mengalami cacat mental maupun fisik dan ada juga orang menikah demi kesejahteraan bersama.

Panggilan yang saya pilih adalah panggilan untuk mengikuti Tuhan secara total. Mengikuti Tuhan secara total merupakan panggilan untuk menjadi seorang imam atau pengikut Kristus yang sejati. Mengikuti Kristus secara total berarti harus siap memikul salib yang telah dipikul-Nya itu. Sebab panggilan Tuhan merupakan karunia dan anugerah yang besar.

Melalui proses untuk mengikuti Tuhan secara total memiliki perjalanan yang begitu panjang dan memiliki berbagai macam tantangan dan cobaan yang kita alami baik itu dari dalam diri sendiri, keluarga, sahabat dan kenalan maupun orang lain. Namun tantangan itu datang untuk menguji kita apakah kita masih mau mengikuti-Nya atau tidak? Ketika tantangan itu datang perlulah kita melihat dan mengambil makna dari sisi positifnya.

Hal itu saya alami sendiri ketika dalam perjalanan panggilan ini, saya melakukan  suatu pelanggaran yang besar di mana melanggar peraturan yang sudah ditetapkan oleh Seminari. Dan di saat itulah saya mendapatkan sangsi yang cukup berat sehingga rasa dilema dalam panggilan ini pun muncul.  Namun segala rasa dilema, galau dan merana itu tidak berlarut dalam diri saya begitu saja. Mengapa? Karena saya percaya bahwa ketika Tuhan memberikan tantang kepada seseorang itu pasti tidak melalui batas kemampuannya.

Oleh karena itu, rasa dilema, galau dan merana itu mulai berkurang karena walaupun saya diberikan tantangan dan cobaan, namun Tuhan itu tidak pernah meninggalkan saya untuk menghadapi itu dengan sendirinya. Tuhan sendiri hadir melalui orang-orang yang berada di sekitar saya yakni mereka yang sedang berada di jalan panggilan untuk mengikut-Nya. Tuhan hadir melalui mereka untuk menguatkan saya terus menerus dengan memberikan dukungan dan motivasi yang begitu besar baik melalui perkataan maupun tindakan sehingga saya percaya bahwa Tuhan  itu selalu hadir di saat saya bersama dengan orang di sekitar.

Fr. Mathias Fasse

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini