Masa pandemi covid-19 menjadi masa sulit bagi seluruh orang di dunia, karena turut memengaruhi seluruh aspek hidup manusia. Banyak orang yang harus kehilangan pekerjaannya atau juga tidak bekerja untuk waktu yang panjang akibat dampak virus covid-19 tersebut. Pada akhirnya mereka pun kebingungan dalam mencari cara agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka setiap hari.
Selain itu, ada pula yang harus terpisah dengan keluarganya karena harus menjalani masa karantina. Dampak dari tersebarnya virus ini begitu banyak dan membuat sebagian besar orang hanyut dalam ketakutan, kegelisahan, kewaspadaan, kepanikan, dan sebagainya.
Entah kenapa situasi ini harus terjadi. Namun, ini menjadi tantangan baru untuk hidup masing-masing orang dalam menjawab panggilan hidupnya di dunia. Apakah harus berdiam diri saja? Atau terjun dalam situasi tersebut demi memenuhi kebutuhan hidupnya bersama dengan keluarganya?
Tentu, hal ini diikuti dengan memperbiasakan diri untuk selalu dengan protokol kesehatan. Dengan demikian orang pun dituntut untuk bersahabat dengan covid-19, karena memang seperti itulah keadaan dunia sekarang dengan banyak batasannya. Dengan kata lain, orang harus bisa terbiasa dengan kehidupan yang baru. Lantas, kapan berakhirnya pandemi ini? kapan bisa menjalani kehidupan seperti sebelumnya tanpa adanya covid-19?
Hal tersebut tentu tidak dapat diketahui dengan pasti sebab hanya Tuhan yang tahu. Satu hal yang pasti bahwa kita harus menjalani hidup di tengah – tengah pandemi covid-19. Jadi, yang menjadi pertanyaan sebenarnya ialah bagaimana kita manusia menanggapi situasi tersebut? Bagaimana kita menjawab panggilan hidup kita di tengah-tengah situasi pandemi ini?
Tentu dengan doa dan usaha; doa berarti kita berpasrah pada kehendak Tuhan yang membuat kita semakin dekat dengan-Nya; usaha bahwa kita harus terbiasa dengan gaya hidup yang baru serta tetap menjalankan tanggung jawab dan tugas yang ada.
Begitu pun dengan saya, bahwa dengan adanya virus tersebut memunculkan berbagai tantangan baru dalam hidup, terlebih dalam menjalani panggilan sebagai calon imam. Kehidupan perkuliahan saya pun menjadi semakin berat. Kadangkala hal ini membuat saya menjadi malas dan merasa kurang dapat menghadapinya. Akan tetapi, situasi ini membuat saya semakin tertantang dalam menjalani panggilan saya sebagai calon imam.
Di lain pihak situasi seperti ini membuat diri saya harus berjuang demi perkuliahan saya dan juga berjuang untuk memperbiasakan diri dengan gaya hidup baru yakni selalu dengan protocol kesehatan. Pada akhirnya, semester untuk perkuliahan saya itu dapat saya lewati dengan baik. Hal ini tentu karena adanya campur tangan Tuhan dalam hidup saya dalam usaha untuk menjawab panggilan saya, sehingga di situasi yang sulit sekalipun saya dapat menghadapinya.
(Fr. Ferdinan Ogi)











