Hidup di seminari adalah hal yang unik. Unik sebab punya tantangan dan rintangan tersendiri. Seringkali seseorang merasa putus asa dan merasa bahwa Tuhan diam dengan apa yang sedang dihadapinya. Saya pribadi kadangkala merasa demikian, mulai dari seminari menengah, ketika diperhadapkan dengan tugas-tugas, berbagai kegiatan dan ujian yang menurut saya begitu sulit serta persoalan lain.
Saya merasa bahwa Tuhan itu diam sehingga membuat saya kurang bersemangat untuk menjalaninya. “Diam” sebab saat itu saya merasa seperti sedang berusaha sendiri untuk menyelesaikan semua itu agar tetap berada dalam jalan yang telah dipilih ini.
Saat ini saya dibina dan membina diri di Seminari Tinggi Pineleng sebagai seorang frater tingkat satu dan berkuliah di STFSP. Tentu tantangan dan rintangannya semakin besar juga dengan persoalan yang lain pula. Misalnya di semester ini tugas-tugas kampus sudah begitu banyak, di sisi lain saya harus menyesuaikan waktu dengan jadwal dan kegiatan harian lainnya. Maka tak jarang saya harus mengorbankan waktu studi. Dalam keadaan seperti itu, lagi-lagi saya merasa Tuhan hanya diam.
Terlintas pertanyaan, mengapa saya merasa bahwa Tuhan itu diam ketika saya diperhadapkan dengan persoalan ini? Apakah Ia ingin saya untuk berjuang sendiri dengan semua persoalan yang ada? Pertanyaan-pertanyaan batin ini sungguh membingungkan saya dan menghantar saya sampai pada suatu titik, dimana saya merasa tidak mampu untuk menyelesaikannya, merasa ingin meninggalkan jalan panggilan ini.
Namun, waktu terus berjalan dan tanpa disadari saya ternyata bisa menyelesaikan dan melewati semua itu. Ya, semua itu bisa saya lewati dengan kehidupan bersama dengan teman-teman dalam komunitas terlebih teman seangkatan.
Saya berefleksi, di saat kesulitan ataupun persoalan yang berat datang, saya selalu merasa bahwa sedang berjuang sendiri dan tidak dapat melewatinya. Tetapi nyatanya, semua itu dapat teratasi dan terlewati. Saya pun menyadari bahwa ternyata Tuhan selalu bekerja dalam diri saya dan selalu membantu saya dalam menghadapi segala tantangan, rintangan dan persoalan yang ada.
Ia tidak diam ketika melihat ada yang mencari dan membutuhkan bantuanNya, hanya saja saya yang tidak menyadarinya karena selalu bersikap pesimis dan tidak berada dalam keheningan bersama dengan Tuhan. Saya sadari bahwa Tuhan itu tidak diam melainkan selalu membantu saya. Namun seringkali apa yang diperbuat-Nya tidak saya sadari dan akhirnya hanya lewat keheninganlah saya bisa menyadarinya. Dalam kehidupan sehari-hari sayalah yang malah sering diam dan seolah-olah menutup mata terhadap rahmat Tuhan.
(Fr. Ferdinan Carolus Ogi)











