Refleksi : “Aliran Panggilan Tuhan”

0
2104

Panggilan menjadi seorang imam adalah suatu berkat dan tanda cinta Tuhan untuk manusia. Memilih untuk menjadi seorang imam bukan hal yang sulit, namun menjadi tantangan di dalam hati. Sewaktu saya masih kecil, cita-cita saya adalah menjadi seorang pastor. Keinginan itu ada karena kepolosan sebagai anak kecil. Sebagai anak kecil memimpikan hal seperti itu tidak sulit.

Hari demi hari pun terlewati saya yang dulu masih anak kecil kini mulai tumbuh menjadi remaja. Semasa remaja keinginan untuk menjadi seorang pastor masih tetap ada.  Saya tetap ingin menjadi seorang pastor. Keaktifan dalam putra-putri altar, dapat mendorong saya untuk lebih dekat dengan cita-citaku. Dengan teman-teman, saya bertumbuh dan berkembang menjadi anak yang bisa dibilang rajin.

Dukungan orang tua sangat besar bagi saya untuk menjadi seorang pastor bahkan orang disekitar rumah pun demikian. Saya bertumbuh menjadi anak yang tetap rajin dalam menggereja. Semasa saya di SMP keaktifan di gereja sudah tidak seperti dulu. Dengan pergaulan dan berteman dengan banyak orang-orang, keiginan untuk menjadi seorang pastor perlahan-lahan menghilang. Walaupun keinginan untuk menjadi pastor sudah tidak terlalu dipikir dan disukai, saya tetap menjadi putra-putri altar. Meskipun tidak terlalu sering seperti dulu. Cita-cita untuk menjadi pastor itu memang pudar ketika saya menolak untuk mengikuti tes masuk di seminari. Dengan berbagai macam alasan saya pakai agar tidak mengikuti tes ujian masuk.

Hal yang tidak dapat dihindari waktu itu adalah menyukai seseorang gadis. Sebagai anak lelaki faktor itu memberikan pengaruh yang besar. Masa-masa SMA memang begitu membahagiakan.  Dan saya mulai terlibat dalam kelompok gereja. Salah satu kelompok yang saya ikuti adalah Legio Mariae. Dalam kelompok itu saya mengikuti banyak rekoleksi dan kegiatan doa. Dalam kelompok inilah keinginan untuk menjadi pastor tumbuh kembali. Sehingga akhirnya saya mengikuti tes masuk seminari dan diterima di seminari

Sekarang ini saya sudah menjadi seorang frater dan menjalani hidup di seminari. Saya sekarang sadar bahwa panggilan untuk menjadi imam itu tidak dapat hilang, tetapi bagaimana kita melihat bahwa Tuhan telah memilih kita. Walaupun prosesnya mengalami pasang surut tetapi cinta Tuhan tidak pernah menghilang. Tuhan malah mengatur saat yang paling tepat untuk diri saya. Keinginan tidak selalu berhasil. Tetapi yang terpenting bagi saya untuk mau menjadi seorang imam hanyalah kerelaan hati dan berpasrah pada kehendak Tuhan serta meyakini bahwa Tuhan tidak pernah mengecewakan anak-anaknya.

(Fr. Adri Montolalu)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini