Pada saat saya masih duduk di bangku SMP kelas 3, saya bersekolah di sebuah SMP Negeri di kota Palu. Pada saat kelas 3 itu, pribadi saya adalah seorang yang pemalu dan begitu kaku terhadap apapun terutama untuk tampil di depan umum. Suatu saat sekolah kami akan menggelar acara lomba sastra Bahasa Indonesia dalam rangka ulang tahun sekolah. Banyak lomba sastra yang akan diadakan yaitu cipta dan baca puisi, pidato, drama, dan balas pantun.
Saya tidak terlalu menginginkan diri untuk mau berpartisipasi dalam perlombaan itu karena pribadi saya yang malu. Akan tetapi tiba-tiba pada satu hari sebelum berlangsungnya lomba tersebut, saya mendapat kabar dari guru saya bahwa saya harus menggantikan teman saya yang akan mengikuti lomba cipta dan baca puisi. Awalnya saya menolak tawaran guru tersebut, tetapi dia memaksa saya dengan alasan bahwa saya punya bakat untuk menulis puisi yang baik.
Tawaran tersebut dengan berat hati saya terima. Saya tidak memikirkan kesulitan untuk menulis puisinya tetapi saat membacakannya nanti. Hati terus berdebar dan tidak tenang. Ketika itu saya melihat Salib Yesus yang tergantung di dinding rumah dan dalam hati saya berdoa, “Yesus, tolonglah saya dalam menghadapi perlombaan besok”. Hanya doa itu yang saya ucapkan.
Setelah itu saya mencari inspirasi untuk menulis puisi dan kemudian menulisnya, lalu saya latihan membacakannya. Pikiran dan hatiku tidak tenang serta terus menggambarkan bagaimana keadaan saya berada di panggung nantinya. Malam itu saya putus asa dan tidak berharap mendapatkan juara. Yang terpenting saya telah berpartisipasi atas nama sekolah saya.
Keesokan harinya saat pergi ke sekolah hati saya terus merasa grogi dan cemas. Saat detik-detik menjelang penampilan, tiba-tiba saya hening sejenak dan teringat akan Tuhan. Lalu saya membuat tanda salib dan berdoa dalam hati, “Yesus tolong bantulah saya”. Kemudian saya mulai membacakan puisi saya dengan menampilkan ekspresi saya semaksimal mungkin. Saat pengumuman lomba saya kaget bahwa saya mendapatkan juara ke-2, padahal awalnya saya tidak mengharapkan untuk mendapatkan juara.
Saya menyadari bahwa hal tersebut adalah berkat bantuan dari Tuhan dan dari usaha saya sendiri. Dari peristiwa ini saya mempercayai bahwa dalam kesulitan dan keputusasaan saya harus berserah pada Tuhan. Karena Tuhan mempunyai cara-Nya sendiri untuk menolong kita. Meskipun saya pesimis akan juara, tetapi saya tetap berserah pada Tuhan. Karena saya selalu yakin bahwa Tuhan akan selalu membantu orang yang membutuhkan pertolongan-Nya.
(Fr. Exel Lorinanto)











