Saudara-saudara, coba ingatlah bagaimana keadaanmu ketika dipanggil. Menurut ukuran manusia tidak banyak di antara kalian yang bijak, tidak banyak yang berpengaruh, tidak banyak yang terpandang. Namun apa yang bodoh di mata dunia dipilih oleh Allah, untuk memalukan orang-orang yang berkhimat, dan apa yang lemah bagi dunia dipilih Allah, untuk memalukan yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan hina bagi dunia, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Maka, sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci, “Barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah dalam Tuhan.”
Saudara terkasih, ini merupakan refleksi perjalanan panggilan yang didasarkan pada bacaan 1 Kor. 1:26-31. Berawal dari Seminari KPA Augustinianum, Seminari TOR Pondok Emaus dan sekarang sudah tinggal di Seminari Tinggi Hati Kudus Pineleng. Melihat kembali perjalanan yang begitu panjang, membawa saya pada satu kesimpulan yang saya jadikan judul refleksi yakni “Roh Kudus yang Mengubah”. Perubahan yang terjadi secara perlahan-lahan namun pasti dialami dalam hidup. Hal demikian dialami sebagai karya Allah dalam diri saya melalui Roh Kudus.
Saya terkesan dengan kata-kata Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, karena itu memang terjadi sesuai kenyataan. Saya dulunya tidak tahu apa-apa, malu, dan takut untuk tampil di depan umum, apalagi memimpin ibadah. Tetapi sekarang mulai perlahan-lahan dibentuk oleh Roh Kudus menjadi pribadi yang berani, tidak malu dan tidak takut jika disuruh untuk memimpin doa, maupun ibadah. Itu semua tentu tak lepas dari penyertaan Roh Kudus.
Namun sering muncul pertanyaan dari orang-orang tentang pilihan saya ini, apakah frater bahagia menjalani panggilan ini? Tentu jawabannya adalah ya. Saya bahagia sekali dengan pilihan saya untuk menjadi seorang imam. Dengan melihat keadaan Gereja sekarang yang masih mengalami kurangnya para pekerja sama seperti yang dikatakan Yesus dalam bacaan Injil. Semangat itu juga dipicu dari dalam dan luar diri, karena saya percaya Tuhan yang memulai semua ini, Tuhan pula yang akan mengakhiri semua ini. Berdoa dan bekerja serta berbagi adalah bentuk penyerahan secara total kepada Tuhan.
(Fr. Andris Yosua Sumigar)











