Refleksi: “Pesimis atau Optimis?”

0
2445

Beberapa tahun yang lalu ketika saya masih duduk di bangku SMA ada peristiwa yang hingga sekarang masih teringat dalam benak saya, yakni melihat seorang muda di tepi dermaga yang penuh keberanian ingin mengarungi lautan yang luas hanya dengan bermodalkan sebuah perahu kecil. Saya dan beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu merasa bahwa orang muda tersebut sudah tidak waras lagi. Namun orang muda itu selalu senyum dan tidak menunjukkan raut muka sedih atau takut.

Hal itu membuat kami yang hadir di tepi dermaga itu tambah bingung. Salah satu dari kami mengeluarkan kata-kata pesimis dari dalam mulutnya dengan berkata, “Kamu akan dipanggang matahari! Kamu akan dimakan binatang laut! Kamu akan ditelan gelombang dan dihempas badai! Kamu akan kehabisan makanan!”

Dalam suasana tegang dan pesimis, kami semua terkejut karena mendengar seruan keras dari salah seorang teman kami yang memberi motivasi kepada orang muda tesebut. Ia berkata kepada orang muda itu: “Selamat mengarungi lautan! Kamu sangat berarti! Kamu adalah orang berani! Kami bangga denganmu! Selamat jalan saudara!”

Pengalaman seorang muda tersebut mengingatkan kembali perjalanan hidup saya enam tahun yang lalu. Saya harus meninggalkan orang tua, kakak-adik, keluarga dan semua orang yang saya cintai. Banyak orang saat itu merasa pesimis dengan keputusan saya. Ada yang mengatakan: “Kamu tidak bisa hidup sebatang kara di negeri orang! Kamu tidak sayang orang tua! Kamu egois!”

Seandainya saat itu saya juga pesimis dan terpengaruh dengan kata-kata tersebut maka saya tidak akan seperi sekarang ini, yakni sebagai seorang calon imam. Sebagai bentuk penghargaan saya wajib mendengarkan apa yang mereka katakan namun saya tidak terpengaruh sedikit pun karena saya tetap berada dalam pilihan.

Dari peristiwa tersebut saya berefleksi bahwa di dalam hidup ini saya menemukan dua sikap hidup, yakni pesimis dan optimis. Sikap pesimis menghambat orang untuk maju atau berkembang. Sikap pesimis membuat orang tidak berani mengambil keputusan dan resiko.

Sebaliknya sikap optimis merupakan energi yang membuat orang berani membangun komitmen dan berani untuk terus maju menghadapi segala resiko demi mencapai kebahagiaan hidup. Optimis akan lebih lengkap apabila ada komitmen; komitmen sebagai alat bantu  agar tidak menyimpang dari pemikiran dasar yang sudah dibangun.

(Fr. Loiz Wazi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini