Setelah melaksanakan berbagai aktivitas di rumah sakit, tibalah saatnya untuk bersantai sejenak ketika waktu menunjukkan pukul 21.00 WITA. Keseruan menonton film pun terpecahkan dengan telepon yang berdering keras. Ternyata ada seorang pasien yang butuh pendampingan pastoral care. Pasien itu adalah seorang bapak yang menderita penyakit yang sudah sulit untuk disembuhkan. Penyakit yang dideritanya sudah mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
Saya pun segera pergi ke tempat bapak ini dirawat. Dalam kondisi kritis, bapak ini masih mengenal saya. Selama satu jam lebih, saya hanya menatap bapak ini tanpa satu kata pun keluar dari mulut saya. Tiba-tiba bapak ini memberikan isyarat kepada orang yang menjaganya. Ternyata, bapak ini meminta saya untuk mendoakannya. Saya pun memimpin doa secara spontan dan doa itu ditutup dengan doa Bapa Kami dan 10 kali Salam Maria. Meskipun dengan suara yang nyaris tak terdengar, bapak ini berusaha untuk menyelesaikan doa Bapa Kami dan Salam Maria. Satu jam setelah itu, saya pun berpamitan karena sudah larut malam. Keesokan harinya, saya pun mendapatkan kabar yang begitu mengejutkan. Bapak itu telah berpulang dengan tenang ke rumah Bapa di Surga.
Ada beberapa hal yang selalu teringat di benak saya tentang bapak ini. Pertama, doa itu adalah sumber kekuatan orang beriman. Ia telah lama mengidap penyakit yang membuatnya bertahun-tahun tidak bisa melaksanakan aktivitasnya. Ia sudah pasrah kepada Tuhan. Doa Salam Maria menjadi doa favorit yang ia daraskan. Kedua, kesehatan itu tak ternilai harganya. Ia telah melalui berbagai macam teknik pengobatan dari medis sampai herbal. Hal ini mau mengingatkan bahwa kesehatan bukan hanya mahal. Kesehatan itu tidak dapat diukur dengan uang. Kesehatan itu adalah anugerah terindah dari Tuhan. Tugas kita adalah menjaga anugerah Tuhan itu. Ketiga, makanlah tepat waktu. Menurutnya, makan tepat waktu itu merupakan salah satu solusi untuk menjaga kesehatan.
Dari pengalaman berkunjung kepada para pasien, mendengarkan adalah “ obat” terbaik untuk menyembuhkan para pasien. Sungguh sangat disayangkan bahwa hal ini kurang mereka dapatkan dalam keluarga mereka. Perasaan dan pengalaman yang tak terungkapkan itu menjadi beban dalam pikiran mereka.
Sama seperti Sang Bunda yang dengan setia mendengarkan dan melaksanakan perintah dari Allah, saya pun senantiasa berusaha untuk dengan setia mendengarkan sharing dari para pasien. Bunda Maria pun memberikan kekuatan kepada saya untuk menjalankan pelayanan itu. Dalam kehidupannya, Bunda Maria selalu berbuat kebaikan. Bahkan, dia rela menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk memberikan berkat dan kabar sukacita bagi Elisabeth. Saya pun senantiasa dipanggil untuk dengan setia berjalan dan berkeliling dari kamar yang satu ke kamar yang lain untuk memberikan suka cita kepada pada pasien. Melalui sapaan, senyuman, mendengarkan sharing dan doa bersama, berkat dan kabar sukacita itu tercurah kepada para pasien.
(Fr Malvin Karundeng)











