Zaman ini adalah zaman harga. Istilahnya bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini, semuanya memiliki harga. Jika orang bertanya tentang istilah “harga”, yang muncul dalam pikiran yakni tentang sesuatu yang berkaitan dengan nilai uang. Akan tetapi, istilah “harga” dengan sehingga menjadi menghargai, dihargai, dan penghargaan. Maka, kata “harga” memberikan arti sebagai makna hidup manusia
Pada masa kini, dimana kita sebagai manusia lebih cenderung memberi penilaian atau penghargaan hanya kepada apa yang tampak dari luarnya saja, bukan dari dalam diri setiap orang sebagai pribadi yang bernilai. Patutlah untuk melihat kembali diri kita, sejauh mana penghargaan yang saya berikan untuk orang lain. Apakah saya hanya cenderung memberi penghargaan kepada mereka yang berprestasi karena baik kepada saya? Dan tidak peduli terhadap orang-orang yang tidak respek kepada saya?
Yesus pernah mengalami sebuah penolakan atau tidak dihargai di tempat asal-Nya sendiri. Orang-orang itu tidak memandang apa yang Tuhan Yesus buat dan kerjakan, tetapi mereka lebih melihat tentang asal-usul Yesus.
Nilai hidup sebagai penyelamat atau Mesias seakan tidak dianggap. Yesus hanya dianggap sebagai seorang anak tukang kayu yang miskin. Meski demikian, Tuhan Yesus tidak berputus asa dengan apa yang diperoleh-Nya, Ia tetap mengadakan mukjizat kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan-Nya.
Oleh karena itu, Yesus tidak memandang siapa yang menolak-Nya, tapi mementingkan apa yang dibutuhkan orang-orang tersebut. Yang dibutuhkan adalah keselamatan. Itulah sebuah penghargaan yang diberikan Tuhan Yesus kepada manusia. Penghargaan Yesus kepada manusia secara penuh dan total. Hal ini dibuktikan oleh penyerahan diri-Nya di kayu salib demi menebus dosa manusia.
Dengan demikian, saya dapat belajar bahwa, “harga” bukan tentang bagaimana orang lain memberi penghargaan kepada saya atau menghargai saya sebagai seorang calon imam atau dihargai orang karena pribadi saya, tapi tentang bagaimana saya memandang orang lain sebagai pribadi yang bernilai dalam dirinya sendiri. Saya sadar bahwa setiap orang punya nilai hidup yang bermakna bagi dirinya sendiri. Sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk berharga yang wajib untuk dihargai.
(Fr. Nofri Ignatius Dianomo)











