Banyak hal baik yang dijumpai dalam kehidupan kita, namun seringkali kita tidak mampu untuk mengertinya. Kebaikan dan kebenaran seringkali hanya dinilai sebatas pandangan dan pemahaman kita. Karena itu, apa yang sesungguhnya baik hanya menurut pandangan dan pemahaman kita saja, sementara tidak ada kesadaran dari dalam diri sendiri bahwa kita memiliki sifat kekeliruan. Maka, tidak heran kalau sering terjadi persoalan dalam hidup kita. Mengapa? Karena tindakan kita yang lebih diutamakan daripada pemahaman tentang sesuatu.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang bagaimana orang Yahudi hendak melempari Yesus dengan batu. Mereka tidak mengerti bahwa Yesus adalah Dia yang diutus oleh Allah kepada mereka. Orang-orang Yahudi tidak sadar bahwa tindakan Yesus sungguh-sungguh berdasar pada kehendak Allah. Pemahaman mereka tentang tindakan keselamatan Allah hanya terbatas pada ajaran atau kebiasaan hidup religius mereka. Konsekuensinya, mereka menolak Yesus yang datang dari Allah. Mengapa? Karena mereka bertindak hanya berdasarkan pada pemahaman tanpa berpikir lebih jauh tentang siapakah diri Yesus.
Apa yang sesungguhnya menjadi dasar bagi kita untuk menghadapi suatu persoalan hidup? Penting bagi kita hanyalah kerendahan hati. Kerendahan hati adalah jalan bagi kita untuk menemukan solusi bagi persoalan hidup yang dihadapi. Dengan kerendahan hati, kita menyerahkan perkara dalam hidup kita kepada Tuhan seperti difirmankan oleh nabi Yeremia, “Biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.” Seorang bijak berkata, “Jangan pernah bertindak sebelum memahami tentang suatu hal”. Perkataan ini tentunya hendak menyadarkan kita bahwa dalam segala hal yang kita hadapi, sikap kerendahan hatilah yang harus diutamakan. Kerendahan hati mempersiapkan diri kita dalam masa prapaskah ini. Masa prapaskah adalah masa pertobatan dan kunci pertobatan adalah kerendahan hati. Dengan bersikap demikian, kita mampu mengatasi keterbatasan kita dan menghadapi setiap persoalan serta menemukan jalan keselamatan di dalam Kristus.
(Fr. Joseph Ohoiledjaan)











