“Kuasa Allah”: Renungan, 22 Maret 2018

0
2843

Saat ini sering kita tidak sadar akan kuasa Allah yang dinyatakan dalam kehidupan setiap hari. Baik itu melalui orang yang dekat dengan kita, maupun orang-orang yang tidak disadari telah menolong dan membantu kita. Kita sering mengandalkan pikiran sendiri dalam menjalani seluruh aktivitas hidup. Ketika mengalami suatu bencana, kita selalu berpikir kalau hal ini berasal dari Allah. Sedangkan di saat memperoleh suatu kesuksesan, kita tidak pernah berpikir akan Allah. Terkadang kita lupa akan Allah, bahkan menyangkal Allah dan tidak percaya akan kuasa-Nya. Kita seringkali menjadi orang yang egois dan serakah.

Dalam bacaan pertama, Allah menunjukkan kasih sayang-Nya yang begitu besar kepada Abraham yang sudah berada dalam usia tua. Allah mengatakan bahwa Abraham akan menjadi bapa bangsa. Kepada Abraham dan istrinya Sara akan diberikan keturunan yang banyak. Secara logika, hal ini tidak mungkin terjadi karena mengingat usia mereka yang sudah tua. Namun bagi Allah tak ada yang mustahil. Allah selalu menempati janji- Nya kepada umat-Nya. Dalam Injil, Yesus berkata, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada”. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, dengan kata lain Ia telah ada sebelum manusia diciptakan. Perkataan orang Yahudi bahwa Yesus belum berumur lima puluh tahun dan apakah sudah melihat Abraham, merupakan suatu ungkapan yang menunjukkan keterbatasan atau ketidakmampuan mereka untuk mengimani Yesus sebagai Allah yang menjadi manusia. Dia adalah Penyelamat dunia yang mereka nanti- nantikan kedatangan-Nya. Mendengar semua jawaban dari Yesus, orang Yahudi tetap saja tidak percaya kalau Yesus adalah Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki dasar iman yang kuat. Mereka tidak percaya akan kuasa Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus sendiri. Sehingga mereka anggap Yesus kerasukan setan, bahkan melempari-Nya dengan batu. Dalam hidup sahari-hari, kita sering tidak percaya akan kuasa Allah. Kita sering cuek dan pandang enteng. Lebih bahaya lagi, kita sering menyalahkan Tuhan dan mau menghancurkan-Nya untuk sesuatu yang tidak kita ketahui. Hal ini sebenarnya menunjukkan kedurhakaan kita kepada Tuhan. Kita tidak pernah berpikir akan rahmat kehidupan yang kita terima setiap hari. Kita tidak pernah bersyukur atas semuanya itu. Maka marilah dalam kehidupan setiap hari, kita menjadi pribadi yang tahu bersyukur. Dan hidup sesuai dengan iman yang baik dan benar.

(Fr. Rhio Sakbal)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini