Hari ini kita merayakan Hari Raya Kabar Sukacita. Pada hari ini, kita memperingati ketika Malaikat Gabriel datang ke desa kecil Nazaret, untuk memberitakan kedatangan Mesias yang dijanjikan Tuhan. Sebuah Kabar Baik untuk dunia disampaikan melalui Maria. Maka Hari Raya Kabar Sukacita selalu menjadi momen yang menyadarkan kita akan cinta kasih Allah yang tidak pernah berakhir untuk manusia.
Kisah Injil tentang panggilan Bunda Maria ini sangat menarik. Maria hanyalah seorang wanita sederhana, dari daerah Nazareth yang tidak dikenal banyak orang. Kita mengingat perkataan Natanael kepada Filipus: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazareth?”. Tuhan selalu memiliki rencana yang indah untuk orang yang istimewa pula. Bunda Maria adalah pribadi yang sederhana dan bersahaja, wanita kudus yang berasal dari daerah yang kurang dikenal tetapi hingga saat ini namanya masih tetap harum dan dikenal di seluruh dunia. Nama Maria tetap dihormati sebagai wanita kudus, pilihan Allah.
Permenungan Kitab Suci menghantar kita pada sebuah keutamaan Murid Kristus sendiri, yaitu ketaatan. Ketaatan sebagaimana yang ditunjukkan oleh Maria. Ketaatan Maria yang memerlukan kehendak yang kuat dan tulus untuk mendengarkan apa yang Tuhan inginkan supaya bisa mematuhinya dengan setia. Setelah menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan maka Ia siap untuk melakukan kehendak Tuhan sepanjang hidupnya. Ia melakukannya dengan sempurna ketika mengandung, melahirkan, membesarkan dan menyertai Yesus sampai tuntas. Bukan ketatan yang kaku pada ritus upacara tertentu saja, dan dengan berbuat demikian, orang menganggap bahwa diri saleh di mata Tuhan. Ketaatan yang demikian belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan karena sangat mudah disesatkan dan mudah kehilangan makna.
Tuhan Yesus menghendaki cinta dan pengabdian kita, bahwa kita memberikan segenap hati kita kepada-Nya dalam pengabdian yang tulus. Oleh karena itu, marilah kita memperbarui pengabdian dan komitmen kita kepada Tuhan hari ini. Marilah kita semua menunjukkan ketulusan dalam iman kita kepada-Nya, dan tidak hanya memberi lips service saja kepada-Nya. Ketaatan iman yang benar adalah seperti Maria yang menunjukkan bahwa komitmen “aku ini hamba Tuhan jadilah padaku menurut perkataanMu” tetap ditunjukkan dengan setia mulai dari perjumpaan dengan Malaikat Gabriel sampai ketika ia harus memangku Puteranya yang diturunkan dari salib.
(P. Dismas Valens Salettia, Pr)











