“Iman”: Renungan, 20 Maret 2018

0
2272

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, “Jangan terlalu percaya pada orang lain”. Orang yang tidak percaya memang sulit untuk mengerti kata-kata orang lain. Apalagi kalau orang itu tidak dikenal. Gereja mengajarkan tentang iman, yakni iman kepada Allah. Kita sebagai umat beriman pastinya percaya bahwa Allah itu sungguh baik, berbelas kasih dan mahakuasa. Namun, apakah manusia sungguh-sungguh dapat mempertahankan imannya di tengah kehidupan yang terkadang diwarnai dengan penderitaan? Realitas hidup saat ini seringkali membuat manusia terjebak, kurang percaya, dan akhirnya meninggalkan Tuhan.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengajak kita untuk melihat kembali kualitas iman. Bacaan pertama mengisahkan bagaimana kualitas iman bangsa Israel. Mereka meragukan kuasa Tuhan yang melalui Musa telah berhasil mengeluarkan mereka dari perbudakan di Mesir. Hanya karena soal makanan, mereka mengeluh kepada Tuhan. Mereka tidak berpikir bahwa karena makanan itulah mereka bisa mempertahankan hidupnya di tengah perjalanan menuju Tanah Terjanji. Dalam bacaan Injil ada banyak orang yang tidak percaya kepada Yesus. Mereka terus mencobai Dia dengan rupa-rupa pertanyaan. Tapi jawaban Yesus tetap sama: Ia adalah Anak Allah yang diutus untuk menyelamatkan manusia. Banyak orang tidak percaya kepada Yesus hanya dengan kata-kata-Nya itu. Mereka baru percaya ketika melihat. Sehingga tepatlah apa yang tertulis dalam bacaan pertama. “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup” (Bil. 21:8).

Sekarang kita sudah percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Ia telah diutus oleh Bapa untuk menyelamatkan umat manusia. Akan tetapi, apakah dengan percaya kita sudah beriman? Kenyataannya tidak semudah itu. Beriman bukan soal bagaimana kita percaya, tetapi bagaimana kita hidup sesuai dengan kehendak Allah. Di zaman modern ini, percaya saja tidak cukup membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh beriman. Orang yang setia mengikuti Yesus dan melaksanakan sabda-Nya dalam hidup setiap hari, itulah orang yang beriman. Memang tidaklah mudah menjadi orang beriman, apalagi di tengah kesibukan dan urusan duniawi kita sekarang ini. Karena itu usaha untuk hidup beriman senantiasa dituntut dari diri kita sendiri. ‘Beriman’ hanya dapat tercapai bila kita tetap setia dalam mengikuti Yesus. Memandang-Nya adalah awal dari iman yang menghidupkan.

(Fr. Faustinus Kebubun)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini