“Panggilan Hidup”: Renungan, 19 Maret 2018

0
4819

Dalam kehidupan setiap hari, kita berjumpa dengan begitu banyak orang dan punya profesi yang berbeda-beda. Ada yang berperan sebagai ayah, ibu dan anak. Dalam profesi, ada sebagai petani, PNS, pegawai swasta, dan lain sebagainya. Setiap orang memiliki panggilan hidup masing-masing. Kegagalan bagi banyak orang adalah tidak mengenal panggilan hidupnya. Banyak orang yang kaya dan mapan dalam hal finansial, tetapi tidak bahagia. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana dan pas-pasan, tetapi mereka begitu bahagia. Ketaatan mendengarkan suara hati adalah cara terbaik untuk mengenal jati diri dan panggilan hidup.

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya St. Yusuf Suami SP Maria. Injil hari ini berbicara tentang peranan Yusuf dalam kaitannya dengan Yesus. Injil dimulai dengan silsilah Yesus Kristus, yang mulai dari Abraham- Daud hingga pada pribadi Yusuf. Pemilihan Yusuf sebagai orantua Yesus hendak menegaskan kemesiasan Kristus. Yusuf mungkin tidak tahu bahwa kehadirannya menjadi penegasan Yesus sebagai Mesias, keturunan Daud. Maka tidak heran, bahwa ketika Ia mengetahui bahwa Maria tunangannya telah mengandung dengan cara yang tak lazim sebagaimana manusia pada umumnya, Ia berencana untuk menceraikan Maria. Tetapi karena ketaatannya pada suara hati, kepada Roh Kudus, Ia tetap memilih untuk mendampingi Maria dan menjadi orangtua Yesus. Ia menjalani kehidupan dan panggilannya sebagaimana ia telah dipanggil untuk menjadi penggenapan akan janji Allah.

Menjadi pertanyaan bagi kita adalah, sudahkah kita mengenal panggilan kita masing-masing? Atau sudahkah kita menghidupi panggilan hidup kita masing-masing dengan baik sebagai orangtua, sebagi anak, dengan profesi kita masing-masing? Salah satu kebiasaan dalam hidup banyak orang masa kini ialah kesibukan. Orang tidak punya waktu untuk berdoa, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sehingga tidak ada waktu untuk merefleksikan tentang arti dan makna dari kehidupannya sendiri. Semakin kita sibuk dengan perkerjaan kita, semakin lemah kepekaan rohani dalam diri dan karena itu kita tidak sanggup mendalami kekayaan rohani dalam diri kita. St. Yusuf telah memberikan teladan ketaatan pada kehendak Allah. Bahwasannya kita mesti peka terhadap karya Allah dalam diri kita sehingga kehadiran kita memancarkan kerahiman dan kasih Allah bagi setiap orang yang kita jumpai.

(Fr. Alosius Bala Sumarre)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini