“Yesus: Teladan Kasih Sejati”: Renungan, Jumat 10 September 2021

0
2479

Hari Biasa (H)

BcE 1Tim. 1:1-2; 12-14; Mzm. 16: 1,2a,5,7-8,11; Luk. 6: 39-42

Banyak yang terjadi pada dunia sekarang ini yaitu, orang lebih cepat menilai dan menghakimi orang lain hanya melihat dari luar diri orang tersebut. Ada kalanya dalam menilai seseorang tentang baik atau buruknya orang itu hanya dari satu sikap atau perilakunya dan tidak melihat keseluruhan sikap dalam hidup kesehariannya. Oleh karena itu, hal yang menjadi penting di sini ialah bagaimana kita melihat diri kita sendiri, apa yang ada dalam diri kita sebelum melihat diri orang lain atau menilai orang lain.

Yesus dalam Injil hari ini mau mengajarkan kita untuk selalu membuka pintu kerahiman dan kasih karunia bagi orang lain. “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?” Kata-kata Yesus ini mau mengartikan kepada kita bahwa Ia adalah baik dan penuh kasih. Ia datang bukan untuk orang sehat tetapi untuk orang sakit atau para pendosa. Maka, sudah seharusnya kita mengikuti teladan Yesus yang mengasihi orang lain tanpa pamrih. Kasih yang sesungguhnya bukan hanya bagi mereka yang dekat dengan kita tetapi juga bagi mereka yang membenci kita. Sebab kasih yang sejati adalah kasih yang seperti Yesus yang rela mati di kayu salib demi semua umat manusia, baik yang kaya maupun miskin, jahat ataupun tidak, dan sebagainya.

Marilah kita selalu melihat dari sudut pandang diri kita sendiri sebelum nantinya melihat atau menilai diri orang lain. Maka, kepekaan terhadap situasi dan kondisi menjadi satu hal yang penting dalam hal mengasihi. Ketika kita berhasil peka terhadap situasi dan kondisi kita dapat mengetahui apa yang dibutuhkan oleh sesama kita dan belajar untuk bersikap penuh kasih kepada siapa saja, sebagaimana Yesus yang adalah Raja Cinta Kasih Sejati. Selain itu, kita juga jangan pernah bosan untuk berdoa dan bersyukur kepada Tuhan yang selalu mengasihi dan menyertai kita serta memberikan rahmat sejahtera bagi kita dalam perjalanan hidup kita di dunia ini. Sudahkah kita bersyukur kepada Tuhan atas kasih-Nya yang berlimpah kepada kita? Atau sudahkah kita mengasihi orang lain tanpa pamrih dan memaafkan orang yang jahat kepada kita?

(Fr. Ferdinan Ogi)

“Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?” (Luk. 6:39b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah dan bimbinglah kami agar selalu bersyukur kepada-Mu dan mengasihi sesama kami. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini