“Sang Pengadil”: Renungan, Rabu 18 Agustus 2021

0
1562

Hari biasa (H).

 BcE Hak. 9:6-15; Mzm. 21:2-3,4-5,6-7; Mat. 20:1-16a. BcO Ef. 2:11-22.

Manusia merupakan makhluk sosial yang menjalin hidup bersama dengan manusia lainnya. Segilintir orang dalam hidupnya diperhadapkan pada situasi dan keadaan permasalahan sosial yang membuatnya merasa diperlakukan “tidak adil”. Lantas persoalan tentang “keadilan” ini memiliki kaitan erat dengan kehidupan bersama. Karena pada dasarnya setiap orang tak ingin disingkirkan dan diperlakukan tidak adil, tidak berat sebelah atau memihak. Namun setiap orang ingin diperlakukan sesuai takaran nilai keadilan bahwa adanya persamaan hak serta sah menurut hukum dan benar secara moral sebagai titik ukuran nilai keadilan.

Perumpamaan tentang ‘Orang-Orang Upahan di Kebun Anggur’ (Mat. 20:1-16) dalam Injil hari ini menggambarkan majikan sebagai pribadi Tuhan sendiri. Para pekerja yang bekerja lebih dahulu bersungut-sungut kepada tuan kebun anggur, karena upah kerja mereka sama dengan para pekerja yang bekerja kemudian. Tetapi tuan kebun anggur mengingatkan kepada mereka: ‘Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah.’ Perumpamaan ini dengan jelas menggambarkan sifat manusia yang selalu berpikir bahwa mereka diperlakukan secara tidak adil sehingga menguakkan perasaan iri dan dengki terhadap sesama. Padahal dalam kenyataannya mereka telah diperlakukan adil seturut perjanjian yang telah mereka sepakati.

Dalam dunia sekarang ini banyak orang dibutakan oleh hal-hal duniawi ketimbang hal surgawi yang semestinya mereka kejar. Ketika diperhadapkan pada situasi yang sama seperti para pekerja kebun anggur, kita cenderung terperangkap dalam suatu pertimbangan untuk menilai ukuran adil dan tidak adil menurut perspektif manusiawi kita. Yesus hendak menegaskan bahwa Dialah, Allah yang empunya segala sesuatu. Allah yang memiliki hak penuh untuk memberikan kepada kita sesuai takaran kemurahan hati-Nya.

Kita manusia adalah makhluk ciptaan-Nya, yang menerima segala sesuatu dari-Nya. Hendaklah kita lebih banyak bersyukur dan bukan bersungut-sungut. Hanya pada Tuhanlah keadilan itu sempurna. Sebab Dialah Allah Sang Pengadil. Biarlah Allah yang mengadili kita, bukan kita yang mengadili sesama kita. Kita dipekerjakan-Nya untuk mengangkat yang salah dan lemah ke jalan yang benar. Oleh sebab itu, marilah kita hidup benar seturut kehendak Allah.

 (Fr. Januarius Heatubun)

“Demikianlah yang terakhir menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu menjadi yang terakhir” (Mat. 20:16).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, doronglah kami agar bertindak adil terhadap sesama. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini