“Andakah yang Terpilih?”: Renungan, Kamis 19 Agustus 2021

0
1934
kalender liturgi

Hari biasa (H).

BcE. Hak. 11:29-39a; Mzm. 40: 5, 7-8a, 8b-9; Mat. 22:1-14. BcO. Ef. 3:1-13.

“Banyak yang terpanggil sedikit yang terpilih” (Mat. 22:14). Sabda Yesus ini sangat populer di telinga kita. Sabda Yesus ini sering kali diberikan kepada para calon imam atau frater. Ada yang mengatakan bahwa banyak yang terpanggil tapi sedikit yang terpilih, yang mana mengacu pada realita bahwa yang menjadi imam hanya beberapa saja dari sekian banyaknya frater. Namun, ungkapan dari Yesus ini sebenarnya ditujukan kepada semua orang bukan hanya sekelompok orang saja.

Oleh sebab itu, apa sebenarnya yang ingin dikatakan dan ditekankan Yesus mengenai Perjamuan Kawin di mana hanya yang terpilih saja yang dapat ambil bagian di dalamnya? Apakah kita bagian dari yang terpilih itu? Apakah kita mampu memberi diri sepenuhnya bagi Tuhan?

Bacaan Injil menekankan beberapa hal yakni pertama, undangan. Allah telah mengundang kita untuk masuk dalam keluarganya. Kita telah menanggapinya melalui sakramen pembaptisan yang kita terima di mana kita dimasukkan dalam keluarga kudus Allah. Namun apakah setelah dibaptis, kita menanggapi panggilan-Nya dalam hidup kita? Kedua, panggilan. Kita telah dipanggil banyak kali. Ia memanggil kita dengan cara-Nya dan melalui banyak orang. Namun kita terkadang takut bahkan ketika telah menanggapinya kita bimbang dan ragu untuk memilih. Ketiga, terpilih. Orang yang terpilih adalah mereka yang siap dengan segala hal dalam hidupnya. Pakaian pesta dalam Injil adalah gambaran di mana kita menanggapi panggilan itu secara serius.

Dalam bacaan pertama Yefta bernazar bahwa ia akan memberikan siapa pun yang keluar pertama dari pintu rumahnya. Dan celakanya, anak perempuannyalah yang pertama keluar dari pintu kediamannya! Namun Yefta tetap menepati janjinya dan mengorbankan anaknya sendiri. Ini merupakan satu bentuk pemberian diri secara total untuk dituntun Tuhan dalam hidupnya.

Penyerahan diri sesungguhnya bukanlah satu perkara mudah tapi perlu pengorbanan penuh. Begitu pula dengan menanggapi panggilan Tuhan dan menjadi yang terpilih. Konsekuensinya adalah pemberian diri secara total yang akan menuntut banyak hal termasuk mengorbankan segalanya dalam hidup. Apakah kita sanggup memberikan diri kita sendiri? Mampukah kita menjawab “Ya Tuhan, aku datang untuk melakukan kehendakMu?”. Semoga kita mampu menyiapkan diri sebaik-baiknya agar ketika dipanggilnya kita telah siap dan akhirnya terpilih dalam perjamuan kawin Anak Domba.

 (Fr. Feighty Sandehang)

Sebab banyak yang dipanggil sedikit yang terpilih” (Mat. 22:14).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, aku datang untuk melakukan kehendak-Mu. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini