Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan (M)
(Perarakan Palma: Mrk. 11 :1-10 atau Yoh. 12 :12-16.)
Yes 50 :4-7 ; Mzm. 22 :8-9,17-18a,19-20,23-24 ; Flp. 2 :6-11 ; Mrk. 14 :1 – 15 :47 (Mrk. 15 :1-39)
Hari ini Gereja memulai Pekan Suci. Lewat perayaan Minggu Palma kita mengenang sengsara Tuhan, yang diawali dengan perarakan Yesus memasuki kota Yerusalem. Ketika telah dekat Yerusalem, Ia meminta kepada dua murid-Nya untuk meminjam seekor keledai. Lalu Yesus naik ke atasnya dan memasuki Kota Yerusalem.
Ketika Yesus lewat, “banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang” (Mrk. 11:8). Banyak orang pun mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru, “Hosanna! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yoh. 12:13). Semua itu merupakan sambutan hangat bagi Yesus.
Minggu Palma ini hendaklah kita rayakan dalam semangat kasih dan kurban bagi Yesus. Kita diajak untuk menyambut Yesus dengan melibatkan seluruh diri kita, bukan hanya pakaian semata, apalagi dengan ranting pohon tak bernyawa. Mari kita sambut Yesus sambil melambaikan ranting rohani jiwa kita dan berseru “Hosanna!” bagi Raja Israel.
Di lain pihak, melalui kisah sengsara kita patut sadar bahwa diri kita adalah bagian dari penderitaan-Nya. Dosa-dosa kitalah yang menyebabkan penderitaan Kristus. Memang, penting untuk merasa pedih dan sedih atas penderitaan Yesus: Ia dikhianati Yudas Iskariot; disangkal oleh Petrus, ditinggalkan semua murid lain; Ia didakwa dengan kesaksian palsu dan dihukum mati setelah sebelumnya disiksa dengan diludahi, dipukul, dibelenggu, disesah, dimahkotai duri, ditelanjangi, dan diolok-olok. Namun, yang tidak kalah penting adalah kita harus merasa pedih dan sedih atas dosa-dosa kita yang menyebabkan Yesus mengalami semua penderitaan itu.
Jika kisah sengsara yang kita dengarkan hari ini membawa kita kepada pertobatan, maka pertobatan kita bisa menyentuh seluruh segi kehidupan. Kita bertobat dan melakukan komitmen baru: menyenangkan Tuhan dengan doa-doa bagi keselamatan jiwa-jiwa, serta tindakan untuk perkembangan Gereja. Sebagai silih atas semua dosa, marilah kita tetap setia mengikuti Dia dalam sengsara-Nya. Jangan sampai kita meninggalkan Yesus dan melarikan diri. Seraya menyesali segala dosa, selama Pekan Suci ini, kita diajak untuk merenungkan jati diri kemuridan kita.
Semoga perayaan hari ini sungguh menyadarkan kita akan karya penyelamatan Allah. Yesus, Putra Allah, harus menderita terlebih dahulu untuk menjadi raja dalam arti sesungguhnya, yaitu raja atas hidup dan mati. Yesus yang sengsara dan wafat, membawa kemenangan atas maut. Pada gilirannya, kelak kita juga akan ikut dibangkitkan bersama-Nya dan ikut mengalahkan dosa serta maut, lewat pembaharuan hidup kita masing-masing.
(P. Antonius Bayu Nuyartanto, Pr.)
“Hosanna! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yoh.12:13b).
Marilah berdoa:
Ya Bapa, semoga lewat sengsara Putera-Mu, kami semakin berani untuk membaharui diri dan semakin setia kepada-Mu. Amin.











