“Kegenapan Hukum”: Renungan, Rabu 13 Juni 2018

0
2504

Pw. S. Antonius dr Padua, ImPujG (P)

1 Raj. 18: 20-39; Mzm. 16:12a,4,5,8,11; Mat. 5:17-19

Hukum Taurat dan pewartaan para nabi menempati tempat yang sentral bagi umat Israel sepanjang sejarah keselamatan. Di dalam hukum Taurat dan pewartaan para nabi termuat kehendak Allah, serentak juga termaklumkan pesan keselamatan bagi mereka yang mau menaati dan mendengarkannya.

Demikianlah beribu-ribu tahun lamanya Allah berbicara dengan umat-Nya lewat hukum dan pewartaan para nabi.

Kedatangan Yesus bukanlah untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi melainkan untuk menggenapinya. Demikianlah perkataan Yesus yang kita dengarkan pada bacaan Injil hari ini. Yang mau dikatakan Yesus sebenarnya adalah bahwa Ialah kegenapan hukum dan semua yang diwartakan oleh para nabi.

Kehendak Allah yang dahulunya termuat dalam hukum Taurat dan pewartaan para nabi kini hadir di tengah-tengah mereka. Kehendak Allah hadir dan berpuncak pada diri Yesus sendiri. Lebih jauh lagi, kehadiran Yesus adalah pernyataan hukum itu sendiri. Ialah hukum itu sendiri.

Kehadiran-Nya tersebut mau menggarisbawahi satu hal penting yakni cinta kasih Allah bagi umat manusia. Melalui peristiwa inkarnasi Allah mau menyatakan cinta kasih-Nya yang besar kepada umat manusia.

Dari kenyataan di atas kita diajarkan bahwa tidak ada hukum yang lebih besar daripada cinta kasih. Kehadiran Yesus di dunia menjadi kegenapan hukum dan pewartaan para nabi karena itulah puncak belas kasih Allah.

Hanya cinta kasihlah yang mampu menarik Allah turun dari kemuliaan surgawi dan mengambil rupa seorang hamba. Karena cinta kasihlah keselamatan hadir di tengah-tengah umat manusia.

Dan melalui cinta kasihlah keselamatan menjadi nyata bagi seluruh umat manusia. Apakah ada hukum yang lebih tinggi dari cinta kasih? Bukankah di bawah cinta kasih bergantung semua hukum dan kitab para nabi?

Demikianlah cinta kasih adalah tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan. Untuk itu, kita semua dipanggil untuk membagikan kasih Allah kepada dunia lewat kesaksian hidup kita.

Inilah persis yang telah dilakukan oleh Santo Antonius dari Padua seorang imam dan pujangga Gereja yang kita peringati hari ini. Keseluruhan hidupnya menjadi tanda cinta kasih Allah bagi dunia lewat ketaatannya melaksanakan kehendak Allah.

Hendaklah kita mampu berbagi kasih kepada sesama karena dengan begitu kita menghadirkan Allah karena Allah adalah kasih (Deus Caritas Est).

(Fr. Reynaldo Tirayoh)

“Aku datang bukan untuk meniadakan hukum taurat melainkan untuk menggenapinya”

(Mat. 5:17).

Marilah berdoa:

Allah, aku bersyukur atas semua cinta kasih yang Engkau berikan dalam hidupku. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini