“Jangan Terjebak”: Renungan, Selasa 2 Juni 2020

0
5380

Hari Biasa (H)

2Ptr. 3:12-15a, 17-18; Mzm. 90:2,3-4,10,14,16; Mrk. 12:13-17

Dalam sebuah permainan catur, kedua pemain memiliki potensi untuk menang. Pemain yang punya strategi dan rencana untuk menjebak lawannya memiliki potensi lebih besar untuk menang. Strategi dan rencana yang baik membuat permainan lawan menjadi kacau. Akhirnya lawan menjadi kalah. Tetapi lebih dari itu, seorang pemain catur akan menang jika dia mengetahui rencana dan strategi lawannya. Akhirnya dia tidak terjebak. Sebaliknya menjadi pemenang dalam permainan.

Dalam bacaan pertama, rasul Petrus menasehati supaya manusia selalu berusaha dalam hidupnya. Manusia diajak untuk tetap waspada. Siapakah yang perlu diwaspadai? Jawabannya adalah para penyesat. Petrus menegaskan: “Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tidak mengenal hukum dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh” (2Ptr. 3: 17b). Manusia merupakan makhluk yang rapuh. Manusia rentan terpengaruh dengan hal-hal yang ada di dalam dan luar dirinya. Oleh karena itu, manusia harus berusaha agar tidak mudah terseret dalam kesesatan.

Dalam Injil diceritakan tentang hal membayar pajak kepada kaisar. Injil ini menunjukkan tentang sikap Yesus dalam menghadapi realitas yang ada. Banyak orang yang mengagumi-Nya tetapi juga tak sedikit yang membenci-Nya. Beberapa orang Farisi dan Herodian berusaha menjebak-Nya. Mereka paham betul situasi waktu itu. Mereka memiliki pengetahuan yang luas.  Oleh karena itu, mereka menggunakan pengetahuannya untuk menjebak Yesus. Bentuk jebakan mereka adalah pertanyaan. Hanya satu pertanyaan, “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka. Yesus tidak memberikan jawaban tanpa isi. Melainkan jawaban sederhana dan bermakna. Yesus bersikap netral. Kebijaksanaan Yesus terlihat jelas. Yesus tidak terpengaruh karena Ia bersikap bijak. Ia berpikir sebelum bertindak. Akhirnya, Yesus tidak terjebak.

Banyak hal dalam kehidupan yang membuat kita terjebak dalam kesesatan. Pengalaman diri ditolak, tidak dihargai, tidak diterima, dan tidak dicintai oleh orang-orang yang ada di sekitar kita. Semua itu membuat kita menyalahkan diri sendiri dan orang lain, bahkan menyalahkan Tuhan. Yesus mengajarkan kita untuk bersikap tenang. Dia pun memberikan kita teladan untuk bersikap bijak dan berani melakukan sesuatu. Kuncinya adalah tenang, berpikir secara bijak, berani bertindak. Dengan demikian, kita tidak terjebak dan terjatuh. Akhirnya, kita menjadi pemenang dalam hidup.   

(Fr. Jefry Lumentut)

“Kembalilah, hai anak-anak manusia” (Mzm. 90:3b)

Marilah berdoa:          

Ya Bapa, berkatilah kami agar tidak terjebak dalam kesesatan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini