Hari Biasa Pekan I Prapaskah (U)
Ul. 26:16-19; Mzm. 119: 1-2,4-5.7-8; Mat. 5:43-48
Ada kecenderungan manusia sekarang lebih menekankan pembalasan daripada pengampunan. Kejahatan dibalas dengan kejahatan. Kebaikan dibalas pula dengan kebaikan. Kalau seseorang memukul saya, maka saya pun harus membalasnya dengan pukulan. Ini merupakan suatu pembelaan diri dan pertahanan diri. Banyak orang berpikir itulah tindakan rasional yang harus dilakukan.
Dalam bacaan Injil yang difirmankan hari ini, Yesus memberikan penjelasan tentang kedatangan-Nya untuk melengkapi Hukum Taurat. Ia juga datang untuk membersihkan pandangan bangsa Israel tentang Hukum Taurat, bahwa apa yang jahat haruslah dibalas dengan sesuatu yang jahat. Sebaliknya, kebaikan patut dibalas dengan kebaikan. Inilah pemahaman yang ingin dibersihkan Yesus bahwa sebagai anak Allah, hilangkanlah pikiran dan perbuatan jahat. Dan lakukanlah kebaikan kepada semua orang, baik yang melakukan kebaikan maupun kejahatan kepadamu.
Pokok terpenting ialah memposisikan diri sebagai anak-anak Allah. Sebagai anak-anak Allah, hal pertama dan terutama adalah menjadikan Allah di atas segalanya. Maka hal-hal yang akan dilakukan kita sebagai anak, akan selalu berkenan kepada-Nya. Tak lain lagi yakni menjadikan diri serupa dengan Dia, yang Mahasempurna. Tindakan kesempurnaan yang Allah mau dari kita sebagai anak-anak-Nya telah jelas dikatakan di atas, yaitu kasihilah sesamamu, entah yang berbuat baik maupun yang berbuat jahat kepadamu.
Ketika kejahatan orang kepada kita dibalas dengan kejahatan pula, maka banyak persoalan baru akan muncul. Dan kita akan terus tenggelam dalam permasalahan yang membawa kehancuran. Tak hanya itu, diri kita pun akan semakin dijauhkan dari kedamaian, kesempurnaan, rahmat, dan berkat Allah.
Beranilah melakukan tindakan dahsyat sebagai anak-anak Allah. Kalau kebaikan orang lain kita balas dengan kebaikan, maka itu manusiawi. Namun jika kejahatan orang kita balas dengan kebaikan, maka itu dahsyat dan mulia. Percayalah kebaikan yang kita buat untuk membalas kejahatannya, akan menyadarkan orang tersebut suatu saat dan akan membawa damai, sukacita, dan keselamatan bagi kita.
(Fr. Phedy Huklubuk)
“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44).
Marilah berdoa:
Ya Allah Bapaku, ajarilah aku untuk dapat menjadi anak-Mu yang setia. Jadikanlah aku mampu mengasihi Engkau lewat kasih kepada sesama yang berada di sekitarku. Baik orang yang mencintai, maupun yang membenciku. Amin.











