“Menderita Untuk Bahagia”: Renungan, Minggu 8 Maret 2020

0
4255

Hari Minggu Prapaskah II (U)

Kej. 12:1-4a; Mzm 33:4-5,18-19,20,22; 2Tim. 1:8b-10; Mat. 17:1-9.

Saudara terkasih, orang sering bertanya, apakah penderitaan itu suatu nilai? Tentu saja tidak, karena penderitaan itu bukanlah tujuan hidup manusia. Tak ada manusia normal yang bercita-cita untuk menderita atau berdoa kepada Allah supaya hidupnya penuh dengan penderitaan. Oleh karena itu, penderitaan bukanlah nilai, karena tidak dicari, tidak diinginkan dan tidak dijadikan tujuan. Walaupun bukan sebuah nilai, toh ia tetap bernilai atau bermanfaat. Ia memungkinkan manusia memahami hidup secara real. Hidup manusia yang real adalah hidup yang ditandai dengan penderitaan dan kebahagiaan.

Saudara terkasih, gerakan hidup antara “penderitaan dan kebahagiaan” itulah yang dialami oleh Abraham dalam bacaan yang pertama. Abraham bergumul untuk menjadikan hidupnya bermakna. Ia telah merasakan banyak kebahagiaan di negeri yang ditinggali, kebahagiaan tinggal bersama dengan sanak saudaranya dan kebahagiaan dengan kepunyaannya. Pengalaman kebahagiaan ini seakan sirna karena Allah “mengganggu” ketenangan dan kebahagiaan, dengan menyuruhnya meninggalkan semua itu. Namun, dengan iman yang taat, Abraham tidak menolak perintah itu. Abraham berangkat menurut sabda Tuhan. Baginya, melaksanakan sabda dan perintah Tuhan akan memperoleh kebahagiaan dan berkat yang melimpah.

Penderitaan itu perlu bagi orang-orang yang mencari “hidup yang tidak dapat binasa”. Dalam surat kepada Timotius dikatakan tentang panggilan untuk ikut menderita bagi Kristus Yesus, karena Ia yang menyelamatkan kita. Sebagai murid-murid Kristus, jangan pernah takut menderita demi Injil. Mengikuti Injil berarti orang harus siap menderita, dimana ia harus meninggalkan gaya hidup yang lama dan mengenakan gaya hidup yang baru, dengan dasar cinta kasih. Dengan begitu, kita akan mendapat berkat hidup bahagia dan kekal bersama Allah.

Saudara terkasih, pengalaman kebahagiaan di gunung Tabor membuat Petrus terpesona dan tidak mau lagi untuk turun gunung. Petrus merasa enak, aman dan bahagia menyaksikan kemuliaan Tuhan di atas gunung. Pengalaman Petrus ini melukiskan kebahagiaan yang menjadi suasana dan nasib akhir orang-orang yang sudah berjuang sama seperti Musa dan Elia dalam memperjuangkan kebaikan walaupun jatuh bangun dan sulit.

Transfigurasi di atas gunung meneguhkan umat beriman untuk tidak memimpikan kebahagiaan hidup yang instan. Manusia harus berjuang, harus turun dari dunia cita-cita dan melumuri tangan dan tubuhnya dengan perjuangan hidup, dan melihat bahwa penderitaan hidup itu adalah sesuatu yang perlu. Orang yang menghargai penderitaan akan mengerti bahwa hidup yang bermakna memerlukan pengorbanan. Pengorbanan itu akan mengantar kita pada kemuliaan bersama Allah.

(Fr. Berly Dianomo)

“Tuhan, betapa bahagianya kami di tempat ini” (Mat. 17:4)

Marilah berdoa:

Tuhan, ajarlah kami berkorban untuk kemuliaan-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini