“Berdamai”: Renungan, Jumat 6 Maret 2020

0
2665

Hari Biasa Pekan I Prapaskah (U)

Yeh. 18:21-28; Mzm. 130:1-2,3-4ab, 4c-6, 7-8; Mat. 5:20-26

Damai merupakan keadaan tanpa tekanan, permusuhan dan perang. Damai juga berarti perasaan aman dan tidak merasa terancam. Situasi damai menunjuk pada relasi manusia. Orang sering mengungkapkan hidup damai, negara yang damai, lingkungan yang damai, dan sebagainya. Demikian kata damai dipakai dalam konotasi yang positif. Sedangkan berdamai menunjuk pada kehendak untuk mengusahakan keadaan yang tanpa tekanan, tidak bermusuhan serta perasaan aman.

Bacaan-bacaan hari ini mengungkapkan bagaimana usaha untuk berdamai dengan sesama terlebih dengan Tuhan menjadi prasyarat mencapai keselamatan. Dalam bacaan Injil, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa jika engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkan persembahanmu dan pergilah berdamai dahulu dengannya dan kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Kurban yang kudus tak berarti bila tanpa keadilan dan kebenaran serta menunjukkan cinta.

Bagaimana mungkin orang beribadah kepada Tuhan jika masih menyimpan dendam atau rasa benci terhadap sesama dalam hatinya. Memupuk kemarahan dapat meracuni pikiran dan tindakan serta menyebabkan kehilangan kendali atas diri. Lebih jauh lagi akibat kemarahan itu mengakibatkan tindakan pembunuhan. Bukan hanya secara fisik tetapi juga secara mental dan spiritual. Orang mengenal bentuk pembunuhan ini sebagai pembunuhan karakter. Sikap yang demikian menuntut pertobatan.

Cara yang paling utama yakni berdamai dengan sesama. Melalui perdamaian dengan sesama maka hubungan yang akrab dengan Tuhan menjadi mungkin. Sejalan dengan itu, nabi Yehezkiel juga menuntut sikap hati sebagai penentuan keputusan akan penghakiman Allah. Siapa yang pada akhirnya melakukan kebenaran pasti akan mendapat keselamatan.

Masa Prapaskah ini adalah masa istimewa untuk membaharui hidup melalui pertobatan dan laku-tapa yang berbuah nyata dalam tindakan cinta kasih. Sikap yang mau berdamai menjadi kesempatan membenahi diri dan memurnikan hidup panggilan Kristiani. Relasi persaudaraan yang sejati akan mengikat relasi antar manusia dalam kasih, keadilan dan kedamaian. Berdamailah dan bertumbuhlah dalam kasih persaudaraan maka fajar keselamatan dari Tuhan akan membebaskan kita dari segala kesalahan.

(Fr. Leon Ze)

“Tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu” (Mat. 5:24).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan bebaskanlah aku dari segala kesalahanku dengan berdamai dengan sesamaku. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini