“Luar dan Dalam”: Renungan, Selasa 15 Oktober 2019

0
2598

Rm.1:16-25; Mzm.19:2-3,4-5; Luk.11:37-41.

Pw S. Teresia dr Avila, PrwPujG (P).

Dalam perjalanan hidup Yesus kerap kali ditampilkan bagaimana Ia mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Kecaman itu pastinya tak terlepas dari maksud dan tujuan. Orang menyangka kecaman tersebut merupakan cara Yesus untuk mengubah apa yang sudah ditetapkan dalam Hukum Taurat. Tetapi sejatinya kecaman itu selalu terarah pada pemenuhan hukum taurat.

Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan kecaman Yesus terhadap orang-orang Farisi dan para ahli Taurat ketika Yesus diundang makan oleh seorang Farisi di rumahnya. Orang Farisi melihat Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Mereka pun merasa heran, sebab menurut ketetapannya bahwa orang harus membersihkan dirinya dahulu. Tetapi Yesus mengikis pemahaman mereka dengan menekankan bahwa adalah lebih penting jika orang bersih bagian dalamnya. Sebab Yesus tahu bahwa dalam hati mereka dipenuhi rampasan dan kejahatan bahkan hanya menampilkan bagian luar yang penuh dengan kemunafikan. Tetapi Yesus tidak mengesampingkan bagian luar, karena itu Yesus berkata bahwa bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Yesus menginginkan supaya setiap pemberian yang diterima secara cuma-cuma dari Allah disejajarkan dalam kehidupan setiap insan. Dengan demikian, “sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu”.

Secara langsung Yesus telah membedakan dua bagian dalam setiap pribadi manusia, yaitu bagian luar dan bagian dalam. Bagian luar menyangkut apa yang ditampilkan oleh pribadi manusia, sedangkan bagian dalam berkaitan dengan hati dan pikiran  sebelum bertindak. Tetapi semuanya saling berkaitan erat dan saling mempengaruhi. Dalam kehidupan kita, seringkali apa yang ditampilkan dengan perbuatan, berbeda dengan apa yang ada dalam hati dan pikiran kita. Seperti orang Farisi dan para ahli Taurat selalu menampilkan kabaikan tetapi dalam hati dan pikiran penuh dengan kejahatan dan rampasan. Yesus menginginkan supaya dalam segala perbuatan dan pikiran harus selalu bersih dan penuh dengan kebaikan. Kita harus memulainya dari bagian dalam, yakni hati dan pikiran. Harus dibiasakan dan dilatih untuk selalu bersih dan penuh dengan kebenaran dalam terang kasih Allah. Semangat dan cara hidup Sta. Teresia dari Avila, mengajarkan kepada kita supaya selalu mengisi hidup dengan kebaikan dan menampilkan cara hidup yang selalu terarah pada kasih Allah.

(Fr. William Jansen)

“Dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu”(Luk. 11:41b).

Marilah berdoa:

Ya Allah, semoga hati, pikiran dan perbuatan kami selalu penuh dengan kebaikan. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini