”Mukjizat dan Kepercayaan”. Renungan, Senin 1 April 2019

0
2785

Hari biasa Pekan IV Prapaskah (U)

Yes. 65:17-21; Mzm. 30:2,4,5-6,11-12a,13b; Yoh. 4:43-54

Pada zaman sekarang, dasar sebuah kepercayaan adalah data atau fakta. Dengan kata lain, data atau fakta menjadi basis dan bukti untuk sebuah kepercayaan. Sementara dalam dunia bisnis, kredibilitas menjadi salah satu unsur penting. Hubungan bisnis yang baik dapat terjadi karena ada relasi yang dibangun di atas kredibilitas. Inilah suatu prespektif dari beberapa aspek kehidupan manusia.

Injil Yohanes pada hari ini memberikan suatu prespektif lain kepada kita tentang mukjizat yang dilakukan oleh Yesus sendiri. Penginjil Yohanes hendak menegaskan kepada kita bahwa dasar sebuah kepercayaan bukan hanya terletak pada fakta, relasi fungsional, dan lain-lain, melainkan juga iman. Kepercayaan harus membawa kita pada kebahagiaan. Yesus mengajak kita untuk mengarahkan kepercayaan kepada sesuatu yang bermakna bagi hidup.

Dalam iman, Yesus mau mengajar dan mengarahkan kepercayaan kita untuk mendahului dan melampaui segala data dan fakta yang ada. Mendahului berarti menjadi basis bagi kehadiran sebuah kenyataan real. Kepercayaan menghadirkan kenyataan. Inilah bentuk iman sempurna yang sering terjadi dalam mukjizat Yesus. Sedangkan, melampaui berarti kepercayaan bukan hanya terbatas pada aspek lahiriah, melainkan  juga menyentuh aspek batin yang tidak dapat dicerap melalui akal dan panca indera manusia.

Yesus adalah sumber kehidupan, kebahagiaan dan keselamatan umat manusia. Untuk itulah, sikap kepercayaan mesti diarahkan kepada-Nya. Sebab bersama Dia, kita  dapat melewati dan menggapai tujuan akhir kita sebagai umat manusia. Yesus mengharapkan agar kepercayaan mesti disertai dengan suatu pemberian diri secara total. Percaya karena Dia adalah sumber keselamatan bukan karena mukjizat yang diadakan. Mukjizat merupakan implikasi dari pewartaan Yesus. Percaya kepada Dia secara lahiriah maupun batiniah.

Kita adalah ank-anak Allah di dunia. Hal itu berarti kita menjadi ahli waris takhta Kerajaan Allah. Menjadi pewaris berarti turut terlibat dalam karya pewartaan yang masih terus berlanjut menuju kepenuhannya. Oleh sebab itu, kita  mesti menjadi figur bagi orang lain di sekitar hidup ini. Kita mesti mengajak dan membuka hati mereka untuk mengarahkan  kepercayaan pada sesuatu yang  membahagiakan hidup. Bukan kebahagiaan sementara tetapi kebahagiaan kekal.

(Fr. Frantosius Kadoang)

“Pergilah, anakmu hidup! Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi” (Yoh. 4:50).

Marilah berdoa:

Tuhan, bantulah aku untuk lebih percaya kepadaMu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini