“Menjadi Anak Allah”: Renungan, 3 April 2018

0
2134

Dalam kehidupan berkeluarga, setiap ayah tentu memiliki harapan akan anaknya. Harapan- tersebut kiranya menjadi dasar hidup sang anak. Dalam hal ini, sang ayah tentu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Misalnya rajin ke Gereja, supaya menjadi anak Tuhan. Demikian halnya yang tampak dalam bacaan Injil hari ini.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan peristiwa penampakan Yesus kepada Maria Magdalena. Dalam penampakan itu Yesus bersabda, Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”

Penegasan Yesus mengenai “Bapa-Ku dan Bapamu” menunjukkan suatu kesamaan bahwa Allah adalah Bapa kita juga. Yesus telah melakukan apa yang dikehendaki oleh Bapa. Dengan kesetiaan-Nya, Ia rela mati di salib untuk menebus dosa-dosa kita. Dalam bacaan pertama, Petrus menyerukan kepada kita untuk bertobat dan dibaptis supaya kita menerima karunia Roh Kudus yang menjadikan kita sebagai anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah tentunya kita melakukan apa yang dikehendaki oleh Bapa yaitu mewartakan kabar gembira kepada semua orang. Kabar gembira yang kita wartakan yaitu bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari alam maut.

Kebangkitan Yesus yang ditunjukkan dalam kisah penampakan-Nya kepada Maria Magdalena menunjuk akan kemenangan kuasa Allah atas maut. Bahwa Bapa tidak pernah meninggalkan Anak-Nya sendirian. Kebangkitan-Nya pun menjadi inti keyakinan iman kita umat Kristiani. Teladan yang diberikan Yesus kepada kita melalui hidup, karya dan pewartaan-Nya menjadi model bagi kita untuk mengikuti jejak-Nya. Oleh karena itu, pertobatan dan pembaptisan menjadi syarat untuk hidup seorang Kristiani. Demikian pun, karunia Roh Kudus yang kita terima menjadi pembimbing hidup kita. Dengan demikian, orang-orang di sekitar kita percaya bahwa Yesuslah Sang Mesias, Anak Allah yang hidup dan supaya mereka juga dapat diangkat menjadi anak-anak Allah dan oleh imannya memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Sabagai seorang Kristiani, kita semua memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah tentu harus melakukan apa yang dikehendaki oleh Bapa. Agar kita pun dapat memperoleh hidup yang kekal seperti Yesus. Muncul pertanyaan, “Sanggupkah kita menjadi anak-anak terang yang mengutamakan kebenaran? Memperjuangkan orang-orang kecil dan yang menderita? Sanggupkah kita menjadi saluran rahmat Allah untuk orang lain?

(Fr. Leo Songbes)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini