“Tanda”: Renungan, 4 April 2018

0
1981

“Kami butuh bukti (tanda) bukan janji.” Ungkapan ini merupakan ungkapan harapan yang sering diserukan oleh warga masyarakat, berhadapan dengan bakal calon pemimpin. Ungkapan ini pula sering kita temui di saat masa-masa kampanye. Masa kampanye merupakan masa di mana para calon berjumpa langsung dengan masyarakat dan menyuarakan atau mengungkapkan visi dan misi mereka. Dalam visi dan misi inilah terungkap janji-janji yang akan mereka lakukan ketika terpilih nanti. Janji-janjilah inilah yang diharapkan menjadi suatu bukti/tanda nyata.

Bacaan-bacaan hari ini juga berbicara tentang tanda atau bukti. Bacaan pertama mengisahkan tentang tanda yang dibuat oleh Petrus kepada seorang laki-laki yang lumpuh. Dengan menyebut nama Yesus Kristus, orang lumpuh itu disembuhkan dan dapat berjalan. Melalui tanda tersebut, orang-orang yang melihat akan hal itu merasa takjub dan tercengang. Sedangkan, tanda yang kedua ditunjukkan oleh Yesus dalam bacaan injil.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan dua murid Yesus yang sedang melakukan perjalanan ke Emaus. Namun dalam perjalanan tersebut, mereka tidak dapat mengenali Yesus yang menjumpai mereka. Kendati telah berceritera bersama dan melakukan perjalanan bersama, namun kedua murid ini belum dapat mengenali orang yang ada bersama-sama dengan mereka. Dikisahkan bahwa mereka nanti dapat mengenal Yesus ketika Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi seketika itu Ia lenyap dari tengah-tengah mereka (Luk 24:30-31).

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita merasa canggung ketika berhadapan dengan orang lain, apalagi bila orang tersebut baru kita kenal. Di situasi demikian, kita tidak dengan cepat akan langsung memercayainya. Hal ini dikarenakan kita tidak memiliki latar belakang pengetahuan tentangnya. Maka dapat kita lihat bahwa krisis kepercayaan sesungguhnya menjadi suatu tantangan terbesar dalam menjalin relasi dengan sesama. Tiap orang akan cenderung meminta bukti sebagai jaminan dalam berrelasi. Dengan adanya bukti, barulah orang tersebut dapat meletakkan rasa kepercayaannya. Untuk itu, sudahkah kita memberikan bukti untuk orang lain sehingga kita dipercaya? Sudahkah pula kita menjadi bukti/tanda cinta Yesus bagi orang lain?

(Fr. Frederikus Babaubun)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini