“Kejujuran”: Renungan, 2 April 2018

0
1598

Kadangkala manusia harus membohongi dirinya sendiri dan orang lain, ketika mereka diperhadapkan dengan satu masalah. Terlebih, jika masalah itu menyangkut hidup atau mati. Kata jujur seperti dilemparkan dan dihilangkan untuk sementara waktu dari pikiran mereka. Keadaan yang mendesak memaksa manusia untuk mempertahankan hidupnya dengan cara apapun. Tekanan yang dihasilkan dari satu masalah mendorong manusia untuk menghalalkan segala macam cara dengan berkata tidak jujur.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang kebangkitan Yesus dan dusta Mahkamah Agama. Yesus yang bangkit dengan kuasa Allah disambut oleh para perempuan dengan gembira hati. Perasaan gembira yang diselimuti dengan perasaan takut menghantar mereka untuk menceritakan kejadian itu kepada para murid. Mereka pergi untuk memberikan kabar kebenaran kepada para murid Yesus. Berbeda dengan sikap dari para Mahkamah Agama yang lebih memilih untuk memutar balikkan fakta. Para Mahkamah Agama mengambil keputusan, lalu memberikan uang yang banyak kepada para serdadu yang menjaga kubur Yesus. Mereka berkata kepada para serdadu, “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.

Sikap yang ditunjukkan oleh para Mahkamah Agama mencerminkan bahwa mereka menyembunyikan kebenaran akan kebangkitan Yesus. Mereka merancang cerita yang mengisahkan bahwa Yesus telah dicuri oleh para murid-Nya. Kuasa Allah diganti oleh para Mahkamah Agama dengan kuasa manusia. Sikap yang ditunjukkan oleh para Mahkamah Agama merupakan sikap ketidakjujuran. Sikap ini muncul, karena mereka merasa takut dengan kebenaran yang sudah terungkap. Mereka merasa cemas, karena mereka telah menghukum orang yang tidak bersalah. Permasalahan yang mereka hadapi mendorong mereka untuk mengambil keputusan yang menutupi kebenaran.

Dewasa ini, permasalahan yang muncul berkaitan dengan “kebenaran menjadi tantangan yang berat dan besar bagi umat Allah. Selain teknologi, ilmu pengetahuan, dan lainnya yang semakin maju, orang-orang zaman sekarang juga mempunyai mentalitas yang berbeda dengan orang-orang zaman dulu. Kebenaran yang sangat dijunjung tinggi oleh para murid, khususnya oleh Yesus menjadi tantangan zaman ini. Kita sebagai pengikut Yesus ditantang untuk menyuarakan kebenaran. Dengan berkata jujur kepada sesama dan dunia, kita telah menyebarkan kebenaran dan kegembiraan di dunia ini.

(Fr. Christiano Mandagi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini