“JANGAN BERPRASANGKA BURUK”: Renungan Sabtu 6 Juli 2024

0
742

Hari Biasa XIII (H)

Am. 9:11-15; Mzm. 85:9,11-12,13-14; Mat. 9:14-17.

             Ketika ada seseorang atau satu kelompok tidak mengikuti tradisi yang lazim untuk dilakukan maka akan muncul pertanyaan mengapa mereka tidak melakukan kebiasaan yang seharusnya dilakukan? Lewat pertanyaan ini pasti muncul pemikiran bahwa kelompok tersebut sudah mulai menyimpang dari tradisi dan budaya atau sudah memiliki tradisi yang baru. Memang wajarlah jika berpikir demikian, karena sebagai orang yang hidup dalam satu budaya yang sama mungkin merasa aneh dengan orang yang tidak melakukan tradisi yang ada. Tetapi mungkin juga ada alasan yang mendasar mengapa kelompok tersebut tidak menjalankan tradisi yang ada.

 

Hal demikian juga dialami oleh Yesus dan murid-murid-Nya dalam bacaan Injil hari ini. Murid-murid Yohanes datang kepada Yesus dan bertanya mengapa mereka dan orang farisi berpuasa, tetapi murid-murid Yesus tidak. Murid-murid Yohanes bertanya demikian karena mereka merasa aneh dan heran mengapa Yesus dan para murid tidak berpuasa padahal mereka berada dalam budaya yang sama. Mereka bertanya-tanya mengapa Yesus dan para murid tidak mengikuti tuntutan hukum dan budaya yang menghendaki orang untuk berpuasa pada waktu yang ditentukan.

Menanggapi hal tersebut, Yesus pasti memiliki alasan mendasar mengapa Ia dan para murid tidak berpuasa. “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi ada waktunya mempelai itu akan diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa”. Jawaban dan alasan itulah yang diungkapkan Yesus yang ingin mengatakan bahwa Ia dan para murid bukan tidak mau untuk melakukan budaya dan hukum yang ada, melainkan Ia ingin memberikan kesempatan kepada para murid selagi Ia masih ada agar dapat mendengarkan ajaran-ajaranNya dan melihat teladan-teladan hidup yang baik dariNya. Sehingga ketika Yesus sudah tidak ada mereka dapat mewarisi ajaran dan teladan hidup baik dan mukjizat untuk keselamatan banyak orang.

Yesus telah memikirkan sebuah tujuan yang visioner tanpa menyimpang dari budaya yang ada. Tetapi, Yesus selalu mengingatkan para murid agar tidak lupa dan tidak menyimpang dari kewajiban keagamaan dan budaya mereka sambil juga memikirkan keselamatan orang lain.

Kita manusia sering kali juga terjebak pada sebuah tradisi atau rutinitas yang kaku sehingga pikiran dan tindakan kurang terpola dengan baik. Jika kita melihat orang lain tidak sesuai dengan budaya dan rutinitas kita, maka kita beranggapan bahwa mereka telah menyimpang. Tetapi bisa jadi di balik itu ada sebuah pikiran yang lebih maju dan berguna bagi orang lain. Hari ini Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa jangan berprasangka buruk kepada orang lain jika orang itu tidak melakukan tradisi atau budaya yang ada karena pasti ada sesuatu yang lebih baik dan bermakna yang akan dibuat. Segala sesuatu ada waktunya untuk melakukan kewajiban budaya, tetapi jangan lupa akan tujuan bersama menuju keselamatan.

 

            (Fr. Dkn. Bosco Pontoh)

 

“Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi ada waktunya mempelai itu akan diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa”

(Mat. 9:15)

                                                                                     

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bukalah pikiran kami supaya mampu memikirkan keselamatan bersama. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini