Hari Biasa (H)
1Raj. 10:1-10; Mzm. 37:5-6,30-31,39-40; Mrk. 7:23
Dalam pengalaman hidup sehari-hari, ketika kita bepergian untuk berbelanja makanan atau minuman, sering kali kita berjumpa dengan tulisan atau simbol “halal” pada kemasan. Tulisan ini ingin mengatakan kepada kita bahwa makanan atau minuman tersebut layak untuk dikonsumsi, dipakai dan digunakan. Di sisi lain, kita juga sering mendengar kata orang bahwa makanan atau minuman itu “haram”, yang menunjukkan bahwa barang tersebut tidak layak untuk dikonsumsi atau digunakan. Hal tersebut hendak menjelaskan bahwa makanan dan minuman itu akan mendatangkan malapetaka atau masalah dalam hidup bila dikonsumsi. Fenomena ini membuat kebanyakan orang bingung untuk menentukan manakah makanan yang halal dan manakah makanan yang haram.
Dalam Injil hari ini, Yesus memberikan petunjuk yang sangat baik bagi kita untuk menentukan manakah yang halal dan yang haram. Yesus berkata, “Apapun dari luar yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi yang keluar dari seseorang itulah yang menanjiskannya.” Artinya, segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam tubuh seseorang tidak dapat menajiskan dirinya, karena sesuatu itu bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, yang kemudian akan dibuang di jamban. Dengan demikian, Ia menyatakan semua makanan adalah halal. Perkataan Yesus ini sungguh luar biasa.
Dalam kehidupan sekarang ini, persoalan tentang makanan dan minuman selalu menjadi masalah yang sangat dramatis. Ketika kita melihat orang yang dikenal sebagai orang miskin dan susah, mengonsumsi makanan dan minuman yang mewah, kita pasti langsung bertanya dalam hati, bagaimana mungkin dia mampu membeli makanan dan minuman itu. Sebaliknya, jika kita melihat orang yang dikenal sebagai orang kaya sedang mengonsumsi makanan dan minuman yang mewah, hati kita langsung bergejolak sambil berkata, “Dasar orang kaya, hidupnya hanya mencari kenikmatan, tanpa memikirkan penderitaan orang-orang di sekitarnya”.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kehidupan ini memang sungguh dramatis dan aneh. Tanpa kita sadari, ketika kita melakukan hal yang demikian, sebenarnya kita telah menajiskan diri kita sendiri dan membuat kita menjadi berdosa. Sebab itu, masalah tentang makanan dan minuman bukanlah persoalan utama yang membuat kita menjadi najis dan berdosa. Tetapi, yang menjadi persoalan utama ialah tentang hati. Orang yang mengakui dirinya sebagai pengikut Kristus seharusnya mempunyai hati yang bersih. Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa kita mencintai Tuhan, jika kita masih menyimpan rasa iri dan dendam kepada sesama kita? Sebagai pengikut Kristus, kita harus membersihkan hati kita dengan cara mengaplikasikan ajaran cinta kasih kristiani dalam kehidupan kita sehari-hari dan hal itu sangat mungkin kita lakukan karena Kristus telah terlebih dahulu mencintai kita.
(Fr. Kristovel Pepende)
“Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya!”
(Mrk. 7:15).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, jadikanlah hati kami bersih. Amin.











